Yang Tak Pernah Habis Digali

Pertama kali bertemu denganmu adalah suatu malam yang riuh di trotoar Blok M. Di bawah papan reklame dengan cahaya berlimpah, di samping penjual rokok dan minuman kemasan. Aku, kamu dan kekasihmu sedang membuat sebuah janji. Rencana kecil dengan impian besar. Kalian menjemputku, karena aku memang belum begitu paham jalan-jalan ibukota waktu itu. Baru sebulan aku tinggal disini. Dan aku pikir aku harus lebih sering-sering nyasar, supaya lebih paham jalan.

Basa-basi adalah kewajiban. Jabat tangan, dan lelucon garing yang sempat kita lontarkan. Kita lanjutkan menuju kantormu di daerah Radio Dalam. Kau membonceng motor kekasihmu, sementara dengan motor pula mengikuti kalian dari belakang. Pelan-pelan. Seperti anak ayam yang tak ingin lepas dari ekor induknya.

Kau sempat bertanya padaku “sudah makan?”. Aku yakin ini bukan basa-basi dan aku juga berusaha untuk tak pernah bohong lagi selama beberapa tahun terakhir ini.

Sesampainya di kantormu kau menyuruh seseorang untuk membelikanku sebungkus nasi
padang.

“Cuma sebungkus? Tapi kita kan bertiga.” kataku.

“Kita sudah makan, buat kamu saja.” kata kalian. Sebelumnya aku pikir kita akan masuk sebuah warung makan dulu sebelum sampai di kantormu, lalu kita akan makan bersama. Mie instan dengan telor setengah matang, atau mungkin nasi goreng dengan porsi yang hampir meluap ke bibir piring, sambil membicarakan rencana-rencana kita itu. Ternyata aku salah. Kalian tahu, aku adalah seorang pemalu. Bahkan mungkin, jika ada pilihan melewati kerumunan orang asing atau menjadi batu, aku rasa aku akan memilih yang kedua. Agak menyesal juga, karena aku telah berkata jujur malam ini.

Di meja itu aku makan sendirian. Menjadi pendengar yang baik untuk diskusi kalian, kamu, kekasihmu dan seseorang lelaki yang baru saja kau kenalkan padaku. Agak kikuk, sesekali aku menganggukan kepala, sambil berkata “oh.” yang agak panjang. Sebagai tanda bahwa aku memang benar-benar menyimak obrolan kalian.

Obrolan tentang karyaku yang pernah diambil tanpa ijin oleh sebuah majalah ibukota, (yang menurutmu harus diproses secara hukum, tapi aku tak tahu menahu tentang hukum) tentang puisi-puisi, tentang proses kreatif masing-masing di masa lalu. Tentang rencana rahasia kita. Kita tahu, kita tak benar-benar menguasai apa yang kita bicarakan, tapi siapa peduli? Kita adalah pemilik malam untuk sementara ini.

Ketika kita mengobrol, dan kau bermesra dengan kekasihmu, itu membuatku iri. Lalu esoknya aku cuma bisa mengirim sms pada kekasihku yang berjarak ribuan kilometer dari tempatku berdiri “aku kangen, pengen ketemu kamu”. Berharap besok pagi, sebelum aku bangun, dia mengetuk pintu rumahku, lalu menghambur ke pelukku. Tapi aku pikir itu terlalu berlebihan.

Malam itu hujan, lalu waktu dan obrolan seperti terseret arusnya. Hanyut hingga jauh, hingga jarum jam menunjuk angka dua. Aku tahu, di rumah, kakakku pasti tak bisa tidur nyenyak karena mengkhawatirkanku yang belum juga pulang. Dan meskipun ini bukan ide yang terlalu bagus, tapi aku harus pulang sepagi ini.

Setelah berpuluh meter di atas laju motor dengan kecepatan 80 km/jam dari kantormu, di bawah hujan yang rintik-rintik, dan di dalam kurungan jas hujan yang kupinjam darimu, aku menyimpulkan bahwa aku baru saja bertemu seorang wanita yang hebat dan menyenangkan.

Kemudian, aku juga ingat sesuatu. Tasku tertinggal di kantormu.

***

Aku rasa aku mulai mengagumimu saat aku membaca blogmu yang bercerita tentang kisah masa kecilmu dan ayahmu dulu. Cerita yang membuat mataku seperti kaca yang mengembun karena memandangi hujan. Yang membuat aku tiba-tiba ingin pulang ke kampung halamanku, lalu duduk di samping ayahku yang tak terlalu sehat karena sedang melawan gula berlebih dalam tubuhnya. Memijat
kakinya yang dingin itu. Selamanya.

Diam-diam aku menjadikanmu sebagai inspirasi. Inspirasi layaknya bagi setiap anak daerah yang mengundi nasib mereka di kota. Kau dan aku sama-sama anak daerah dan mencoba menaklukkan kota. Bedanya kau telah hampir mengalahkan congkaknya sedangkan aku baru melangkah maju

Makin lama, kita makin akrab dengan adanya pertemuan-pertemuan berikutnya. Satu yang aku suka dari dirimu, kau tak pernah memandang apakah itu teman lama atau teman baru. Bagimu sama saja. Kau langsung membaur, seperti gula yang larut dalam secangkir kopi. Aku bisa merasakannya.

Aku telah bertemu dengan berbagai wanita dengan tingkah nekat dan gila, tapi sepertinya tak ada yang melebihi dirimu. Suatu saat, ketika kita ada janji diskusi dengan kekasihmu di taman, dan kita berniat berangkat bersama dengan motormu, betapa shock-nya aku ketika mengetahui kondisi motormu. Sebuah motor matic yang kau namai Milky, dengan hanya rem depan saja yang berfungsi, tanpa spion sama sekali, dan suara agak mengganggu membuat aku sempat ragu untuk menaikinya. Bukannya kenapa-kenapa, tapi ini Jakarta, dengan lalu lintas yang sengeri itu, aku tak bisa membayangkanapa yang akan terjadi nanti. Bahkan aku hampir tak bisa membayangkan kalau pengendaranya adalah seorang wanita. Dan keraguanku itu akhirnya terjawab. Ketika melewati jembatan Menteng, sebuah tanjakan dengan sedikit kecepatan berlebih, sesuatu yang tak kita inginkanpun terjadi. Fan belt motor itu putus, kemungkinan karena memang kondisinya sudah hampir aus, dan karena aku terlalu kuat menarik gasnya. Kita menepi di pinggir jembatan, di antara mobil dan motor dengan kecepatan tinggi. Duduk di trotoar seperti dua gembel paling gembel di seluruh kota. Bukannya sedih, tapi kau malah tertawa terbahak-bahak. Kau pikir ini adalah lelucon paling sempurna yang terjadi malam itu.

Aku selalu bersyukur bahwa orang-orang sepertimu ternyata masih disisakan di dunia. Orang yang baik, tanpa syarat apa-apa. Aku tak akan pernah lupa tentang nintendo yang sengaja kau pinjamkan padaku, katanya biar aku tidak merasa kesepian. Asal kau tahu aku dan kesepian sebenarnya adalah sahabat karib sejak dulu.

Disini, kau mencoba mengenalkanku pada sesuatu yang belum pernah kujumpai sebelumnya, pada dunia yang selalu kuinginkan dari dulu. Dunia media masa, tulis menulis. Dunia yang ingin sekali aku masuk di dalamnya suatun saat nanti. Kau pula yang mengajakku bergabung ke dalam dunia teater, dunia yang aku cita-citakan dari sejak jaman SMA. Meski pada akhirnya aku sering bolos latihan, karena alasan malas bulan puasa. Ah, memalukan. Jika ada pertemuan-pertemuan dengan penulis terkenal, kau selalu coba mengajakku. Mengenalkanku pada mereka. Kau ingin supaya aku lebih maju. Bukankah ini menyenangkan?

Tahukah kamu? Aku selalu ingin menggali sesuatu dalam dirimu. Aku selalu ingin belajar darimu. Belajar tentang kemauan kerasmu dalam menggapai sesuatu. Tentang daya kreatifmu dalam melakukan sesuatu. Bahkan hal-hal kecil tentang bagaimana caramu berbicara dengan orang lain, atau caramu meleburkan diri dalam sesuatu yang asing. Aku pikir kau benar-benar layak untuk dijadikan inspirasi. Ibarat sebuah tambang, seperti namamu kau memang tambang intan yang tak habis-habis digali.

Jika tanganku tak mau dihentikan, mungkin komputer ini akan error karena tak habis-habis menulis sesuatu tentangmu. Tetaplah melaju dalam rel itu, dan tentu saja sesekali kau boleh melompat untuk mendapatkan energi yang baru. Terima kasih telah hidup di dunia yang makin gila ini. Terima kasih karena telah mengenalku. Terima kasih telah menjadi sahabatku.

# Kado ulang tahun buat Intan Anggita Pratiwie, yang telat banget.

Iklan

Sebuah Perahu Kertas Kuhanyutkan Ke Timur Cahaya

(1)

Mata kita adalah pemburu yang saling memburu. Sesuatu yang asing tapi dekat, sesuatu yang dekat, tapi asing. Ah, apalah bedanya. Toh, secanggih apapun teknologi tetap tak akan pernah bisa menggantikan hati.

Kau adalah pemenangnya. Kau temukan aku pada sebuah kursi. Pura-pura kalem, padahal grogi. Pura-pura sok asik, padahal sulit berkutik. Suaramu yang memanggil namaku itu menyibak dinding-dinding kafe. Bangku-bangku menundukkan kepala, gelas-gelas menghentikan percakapan, dan malam melonggarkan erat dekapannya.

“Kita pernah bertemu di masa lalu, bukan?” kataku.

“Tak pernah.”

“Kau adalah wanita yang dulu sempat akan membunuhku, bukan?”

“Bukan.” katamu lagi.

Ah, bagaimana ini bisa terjadi? Kita tak pernah bertemu, tapi bisa menjadi magnet seperti ini. Saling merapatkan mata, melekatkan bicara. Lalu aku bilang pada diriku sendiri (lebih tepatnya aku membohongi diriku sendiri) bahwa sebenarnya kau adalah reinkarnasiku dari kehidupan sebelumnya. Itulah sebabnya, kita tak pernah punya batas. Melebur begitu saja.

Lalu kita menuju pesta-pesta purba yang disulap kaum kapitalis menjadi hiburan terkini. Bunyi-bunyian elektronik, dan layar-layar yang sedikit lebih besar dari matahari. Selamat datang di sebuah dunia dimana kau bisa menjadi siapa saja yang kau impikan. Microphone di tangan. Berteriaklah sesuka hatimu. Sepuas-puasnya. Luka-luka telah diuapkan malam ini.

Ah, apapun namanya, bagiku itu adalah tempat dimana kenangan diciptakan. (Kelak jantungku berdegup, ketika lagu yang kau nyanyikan itu kembali tak sengaja aku dengarkan.)

“Apalah artinya ke Jogja, jika tak kita cicipi legit malamnya.”

Entah siapa yang mengucapkan kalimat ini pertama kali. Karena tiba-tiba saja, sekumpulan kita telah mendatangi ruangan-ruangan gelap. Pijar lampu warna-warni yang limbung. Laser yang berputar-putar. Nafsu yang mendesak-desak. Dan bau minuman yang berjatuhan bersama kekarnya asap rokok.

Disini Tuhan telah diistirahatkan. Digantikan dengan tiga penari striptease dan ayat-ayat elektronik. Dentuman musik keras, lagu yang menggerakkan tubuh seperti robot mainan. Tak mengenal kata berhenti. Doa-doa difermentasikan menjadi bir, dan kembali aku bersabda: “surga itu hanya omong kosong belaka.”

Kau menguasai lantai dansa, sedang aku bersama cemas tenggelam, tak bisa berenang. Di dalam gelas-gelas kaca. Di sudut belakang.

Malam liarpun menyusut menjadi embun. Sebagian yang lain menjadi suara adzan. Lalu untuk yang kesekian kalinya kau sebut kembali namaku.

“Penyihir..”

Katamu. Seperti yang kau ucapkan sebelumnya, dalam kafe, dalam ruang karaoke, dalam diskotik, dalam mobil, dalam lampu merah, dalam ketiadaan, dalam.. Dan diam-diam aku merasa nyaman.

Sebelum benar-benar berpisah di sebuah restoran cepat saji itu, kau beri aku pagi yang dingin berwarna biru. Sedang aku tak memberimu sesuatu, kecuali sedikit cemas kalau-kalau kita tak pernah bisa bertemu lagi. Hingga akhirnya kita benar-benar kembali mengubah nama kita menjadi jarak. Jauh. Pelan-pelan lenyap.

(2)

Teknologi memaksa kita untuk menjadikannya agama. Dia telah mengubah bunga, air mata, bahkan rahasia menjadi begitu dekat di antara kita. Hanya sepersekian inchi dari nyawa.

Yang jauh begitu terasa dekat. Yang maya terasa begitu nyata. Dan kita tetap bisa melawan jarak, atau sebenarnya kita memang tak pernah berjarak?

Di antara kau dan aku ada begitu banyak cerita panjang yang ingin saling kita lemparkan. Tentang buku diarymu yang berwarna merah, dimana seorang laki-laki telah menjadi Warewolf di bulan purnama. Memporak-porandakan malam, menelan habis mimpimu. Bulat-bulat. Tentang kampung halamanmu yang eksotis, yang begitu ingin aku menjejakkan puisiku disana, atau tentang cita-citaku untuk mengubah debu tanah kelahiranku menjadi patung-patung manusia baru. Lalu memberinya nyawa.

Kadang kemilau kadang redup. Bukankah memang begitu sifat cahaya? Tak ubahnya kita. Tapi dimanapun kita berada, aku percaya, kita pasti akan memegang nyala itu sampai tua.

Kecuali tanganku yang ingin menjadi angin sepoi-sepoi agar bisa mengacak-acak rambutmu, aku meminta di sisa nyawa, sebuah rendezvous sederhana berwarna biru untuk kita cicipi bersama.

Naga oh naga, sebuah rindu baru saja kulipat menjadi perahu kertas. Lalu kuhanyutkan ke timur cahaya. Ketika esok menjadi sungai, kau bisa menyelamatkan diri di atasnya.

*) Sebuah kado ulang tahun, untuk sahabatku, @elnasinaga.