Rock ‘n Roll

Sebelumnya saya belum pernah merasa sebegitu kehilangan ketika ada teman kantor yang resign (maaf teman-teman yang sudah resign sebelumnya, hahaha), karena memang saya menyadari bahwa seperti itulah siklus kehidupan, tak terkecuali dalam pekerjaan, yang baru datang, yang lama pergi. Setiap orang selalu ingin mencari apa yang menurutnya lebih baik dari apa yang ia miliki saat ini.

Suatu saat seorang teman memberi tahu saya bahwa akhir bulan ini Lusy akan resign, dan saya merasa biasa saja, saya pikir itu hanya gosip kantor yang kadang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hingga saat Lusy memberitahu saya secara pribadipun, saya tetap merasa biasa saja, tapi ketika Lusy menyataan secara resmi kepada perusahaan bahwa dirinya akan resign, dan perusahaan memberitahukan kepada kami, karyawan, saya merasa seperti ada yang akan benar-benar hilang dalam diri saya. Sesuatu yang berharga dan tak akan saya dapatkan kembali, di hari-hari berikutnya, di tempat-tempat selanjutnya.

 

                                                                ==================

 

Nama lengkapnya Lusy Sahaja. Sebenarnya ada nama marga Batak yang menyertainya, Pardede, tapi entah kenapa tak dicantumkan lengkap di KTP atau Akta Kelahirannya. Dia bilang, orang Batak yang lahir di Jakarta tak boleh mencantumkan nama marga di Akta Kelahiran, atau surat-surat resminya. Sampai sekarang saya masih belum paham tentang larangan itu, dan saya juga belum menemukan aturan mana yang melarang hal itu.

Perusahaan kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan. Saya sendiri bekerja sebagai seorang Student Advisor, pekerjaan yang menangani administrasi akademik, dan hal-hal yang berurusan dengan kesiswaan. Enam bulan lalu, seorang karyawan baru masuk, dia bernama Lusy, dia juga menduduki posisi sebagai seorang student advisor, padahal dengan gelar fresh graduate Sastra Inggris Unpad, dia bisa menjadi seorang pengajar. HRD pernah menawarinya untuk menjadi pengajar, tapi dia menolaknya. Alasannya sederhana, dia orangnya tak sabaran, apalagi dengan murid-murid yang susah menerima pelajaran, dia pernah bilang rasanya dia ingin mencekik mereka.

Saat pertama kali masuk, tampangnya sangat menyedihkan. Dengan kulit eksotis dan potongan rambut gaya tahun enam puluhan tanpa pola, membuat dia lebih mirip ibu-ibu rumah tangga, daripada seorang karyawan baru. Belakangan baru saya ketahui, bahwa dulunya ketika rambutnya masih panjang, sebelum bekerja, dia memiliki nadzar untuk memotong rambutnya jika nantinya dia sudah mendapat pekerjaan. Alih-alih memotong rambutnya di salon, dia malah meminta adiknya untuk memotong rambutnya secara asal-asalan.

Beberapa minggu setelah dia bekerja, kami masih merasa biasa saja, apalagi saya seorang senior. Saya tidak men-training dia waktu itu, ada teman lain yang memberi training. Jadi kami hanya berbicara seperlunya, dan kadang ngobrol sebentar di kantin.

Awal yang membuat kami dekat adalah buku. Saya tahu dia adalah anak yang cerdas. Suatu ketika, selesai makan siang saya langsung menebak; “Lo suka baca ya?”, dan dia jawab; “Kok tahu?” untung tidak saya jawab seperti kalimat-kalimat gombal di televisi itu. Ternyata dia adalah pecinta cerita detektif, sementara saya lebih suka cerita roman dan sejarah, maka saya pinjamkanlah dia Tokyo Zodiac Murder, dan beberapa buku yang lain (buku detektif saya cuma satu, maka saya kasih dia To Kill a Mockingbird dan The Fault in Our Stars).

Lama-kelamaan kami semakin akrab. Dia selalu nyambung dengan apa yang saya bicarakan. Dia adalah teman yang tepat untuk membicarakan topik-topik pembicaraan saya yang aneh. Topik-topik yang akan dicuekin, atau dianggap angin lalu oleh teman kantor, jika tetap saya bicarakan dengan mereka.

Lusy akan tahu jika saya ajak bicara tentang lagu apa yang populer di tahun 90-an, Lusy akan tahu lagu barat apa yang paling baru dan enak untuk joget-joget, Lusy akan tahu film apa yang asik buat kita tonton minggu depan setelah gajian, Lusy akan ikut ambil bagian dan menanggapi jika saya bilang kenapa film horror barat selalu diawali dengan rumah baru atau apartemen baru yang berhantu. Bahkan Lusy akan mendengarkan dengan seksama jika saya bicara tentang dunia tulis menulis, dan penerbitan, topik yang akan membuat teman-teman kantor yang lain kabur, bahkan sebelum saya selesai bicara dengan mereka.

 

                                                                ============================

 

Lusy adalah kamus Bahasa Inggris berjalan, karena dia lulusan Sastra Inggris, maka dia adalah (korban) tempat bertanya yang tepat, jika saya ragu apakah grammar kalimat ini benar atau salah, apakah bentuk kalimat ini benar atau salah, sebelum kalimat itu benar-benar saya posting di facebook atau twitter.

Lusy adalah orang yang moody. Dia bisa saja masuk kerja dengan muka cemberut seharian penuh, lalu membuat saya berpikir “salah apa gue sama dia ya?”, meski nanti tiba-tiba dia akan bilang “gue lagi sakit gigi” atau “gue lagi kesel sama ini orang”. Lebih seringnya dia adalah orang yang ceria, suka membuat ge-er orang lain dengan “cieeee” nya, dan memiliki tawa paling kencang di antara teman yang, lain seakan dia sedang camping rame-rame di hutan.

Cara kerjanyapun saya suka, dia tak pernah mencoba melimpahkan masalah pada orang lain. Dia selesaikan apa yang harus dia kerjakan, dan peduli. Suatu malam, jam kerja sudah selesai, dan telpon masih berdering, semua orang akan malas angkat telpon itu, karena memang sudah bukan menjadi kewajiban. Jika menemukan penelpon yang tidak tepat, bisa jadi pembicaraan akan lama, karena penelpon akan menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Namun Lusy tetap mengangkatnya, dan menjawab pertanyaan si penelpon itu. Kasihan, katanya.

Bersama Mbak Rizky, saya dan Lusy adalah team nonton bioskop paling rajin. Setiap ada film baru (yang menurut kami bagus tentunya), kami selalu lebih awal di antara yang lain. Entah jam tujuh malam, entah jam sepuluh malam, kami selalu setia dengan film-film baru yang keren. Masih dengan Mbak Rizky, kami adalah kelelawar malam kantor. Beberapa kali saya menegerjakan tugas kuliah di kantor hingga larut (memanfaatkan komputer dan internet gratis tentunya),  ditemani dan dibantu mereka.

==================================

 

 

Diam-diam Lusy telah melamar di tempat kerja lain, dan dia diterima. Dengan tawaran yang lebih tinggi dari sekarang pastinya, akhir tahun 2013 ini dia resmi resign dari tempat kami bekerja saat ini, dan akan bekerja di tempat barunya nanti di awal tahun 2014. Dia juga berencana untuk ikut Au-Pair bulan April nanti, sebuah program homestay selama 6 bulan sampai 1 tahun di Jerman. Nantinya di sana dia akan tinggal bersama orang tua asuh.  Mengantar jemput anak si orang tua asuh ke sekolah, juga membantu pekerjaan mereka. Selain diberi kesempatan untuk kursus Bahasa Jerman atau Perancis, dia akan tetap dapat allowance tiap bulannya.

Minggu lalu kami, teman-teman kantor ditraktir Lusy di sebuah restoran di Plaza Festival, farewell party ceritanya, dilanjukan dengan karaoke gila-gilaan selama dua jam di tempat yang sama. Saya senang, sekaligus sedih, karena saya tahu hari itu adalah hari terakhir saya bersama dia. Saya sempat ungkapkan kesedihan saya karena dia akan pergi, saya bilang; saya akan kehilangan teman yang paling asik diajak ngobrol hal-hal tak jelas, saya akan kehilangan orang yang cerdas yang bisa menanggapi opini-opini saya, saya akan kehilangan dia, tapi dia bilang saya lebay. Dia bilang, “kita masih bisa ketemu kok, entar gue main lagi ke kantor lo kapan-kapan.” Meski saya tahu, nantinya pasi tak akan lagi sama.

Saat terakhir karaoke ada satu lagu list pilihan dia yang tak sempat kami nyanyikan bersama, karena batas waktunya sudah habis. Rock ‘n Roll-nya Avril Lavigne, lalu saya berpikir mungkin ini sebuah pesan tersirat bagi kami. Bahwa semua ini belum berakhir, bahwa dengan perginya seseorang bukan berarti dunia berhenti, masih ada waktu dan kesempatan lain untuk terus melangkah. Mirip seperti pesan-pesan terakhir khobah Jumat, mengambil hal-hal baik, membuang hal-hal buruk, meski itu klise, tapi memang ada benarnya juga.

Sukses Lusy, saya tahu kamu bukan wanita biasa, kamu akan menjadi seseorang yang lebih dari apa yang kamu bayangkan di mimpi-mimpi. Even in another time and place, we’ll keep rock ‘n roll.

 

When it’s you and me

We don’t need  no one to tell us who to be

We’ll keep turning up the radio

 

What if you and i

Just put up a middle finger to the sky

Let them know we’re still rock ‘n roll

(Avril Lavigne, Rock ‘n Roll)

Image

 

 

Baturetno, 28 Desember 2013


 

Iklan

Sepulang Sekolah

VEW

Ketika pulang sekolah kau mengajakku mampir ke rumahmu. Ibumu sedang bekerja, ayahmu sudah mati dalam pikiranmu. Ini sudah tahun kelima sejak kepergiannya yang tak pernah kau tahu kemana (ini keterangan sekaligus pertanyaan). Kakak perempuanmu sudah mempunyai keluarga sendiri. Dia menikah dengan seorang guru Bahasa Indonesia sekolah dasar. Mereka masih tinggal di kota ini, hanya saja perlu beberapa puluh menit untuk mencapai rumahnya. Kau bilang dia sudah memiliki anak kecil berusia tiga tahun yang lucu. Kau selalu ingin mengajakku ke sana, berulang kali kau bilang bahwa anak kakakmu itu lucu. Menggemaskan. Kau tahu? Mereka, anak kecil itu tak lucu, mereka itu berisik.

Bulan ini harusnya kemarau sudah pergi, tapi dia masih betah di sini. Udara panas memenuhi cuaca, tapi pohon trembesi yang tumbuh di halaman rumahmu bisa memberi sedikit kesejukan. Aku duduk di beranda, sedang kau ganti baju. Seekor kucing berwarna putih dengan belang –belang merah di sekitar perutnya mendekat padaku,  punggungnya ditempelkan di kakiku, merengek minta dibelai. Angin melintas, di belakangnya waktu berjalan seperti orang mabuk.

Kau datang membawa dua gelas es teh. Wajahmu terlihat lebih cerah setelah terkena air. Kau buka ikatan rambutmu. Iring-iringan musik harusnya mengiringimu berjalan, tapi yang ada hanya sunyi dan degup jantungku. Kau ganti baju seragam sekolahmu dengan kaos polos berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga di tepinya, sementara rok sekolah berwarna biru masih kau biarkan membalut pingganngmu yang ramping. Wajahmu selalu memancarkan gairah buatku, meski kau sendiri pernah bilang bahwa kau tak selalu seperti apa yang orang lihat. Ada atau tak ada masalah, kau selalu mencoba memberikan wajah terbaikmu pada orang di hadapanmu. Sejak saat itu, aku selalu menebak-nebak apa yang sedang kau pikirkan jika kau tersenyum padaku.

Dari awal aku tak pernah tahu apa tujuanmu mengajakku ke rumahmu, kita tak memiliki tugas matematika yang harus dikerjakan, kita juga tak sedang akan menghadapi ulangan umum. Kau menyodorkan segelas minuman dingin itu padaku. “Minumlah.” Katamu, kemudian kau menyeruput sendiri bagianmu.

 “Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini.” Matamu memandang ke depan. Memandang puluhan daun trembesi yang jatuh secara lambat, seperti adegan-adegan dalam puisi. Aku menatapmu, tapi masih juga belum bicara, tidak menanyakan maksudmu, meski aku belum tahu. Kau tak lebih jauh menjelaskan, kau malah memegang lenganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah. Yang masih kuingat kami hanya berdua saja di rumah ini.

 “Aku selalu ingin mendengarkan lagu ini berdua denganmu. Tanpa siapapun. Hanya kita berdua.” Sebuah angin berhasil menembus pintu yang masih terbuka dan menyentuh rambutmu.

“Lagu apa itu?” tanyaku. Kami duduk bersebelahan di sofa.

“Setiap aku mendengar lagu ini, aku selalu berpikir bahwa waktu begitu pendek buat kita. Lalu aku ingin menghabiskan seluruh waktuku yang pendek itu bersamamu. Setiap mendengar lagu ini, aku selalu ingin bersandar di pangkuanmu hingga aku benar-benar tertidur, hingga kau tertidur, dan ketika kita bangun, kita masih bersama, meski gara-gara lagu itu juga, aku takut jika kenyataannya tak begitu.”

“Baiklah sekarang putarlah lagu yang membuatku penasaran itu.”

“Ayo kita ke kamar. Tape-nya ada di kamarku.” Aku mengikuti tanganmu yang menuntun tanganku. Kamarmu tak terlalu rapi, beberapa poster band kau pasang di dinding dan pintu. Sepraimu warna merah dengan motif puluhan anak babi sedang minum di ember kayu. Aku suka aroma kamarmu, aroma pengharum ruangan, aroma yang mengingatkanku pada aroma petrichor.

 Kau masukkan sebuah kaset, memencet tombol rewind beberapa kali, berusaha mengepaskan lagu yang kau maksud. Aku masih memutuskan untuk diam, tanpa bertanya. Melodi gitar diikuti cabikan bass dan drum yang mengingatkanku pada musik country. Lalu kau menujuku yang mulai mengenali lagu yang kau maksud. Ini juga lagu yang aku suka sekali liriknya. Berapa juta orang yang mengatakan lirik lagunya “sederhana dan mengena”? aku di antaranya.

 Kau menatapku, tersenyum dan menggenggam tanganku. Aku benci adegan-adegan romantis dalam film drama, tapi saat ini aku sendiri yang terjebak di dalamnya. Terjebak, tapi tak ingin keluar darinya.

 “Aku tahu ini berlebihan, tapi aku benar-benar ingin mendengar lagu ini berdua denganmu.”

Aku tersenyum, mengangguk. Kau sandarkan kepalamu di pangkuanku.

Di luar daun-daun trembesi masih berguguran, burung-burung sriti masih berkejaran dengan angin, dan mungkin ratusan kejadian lain sedang menceritakan ceritanya sendiri, tapi kami tak peduli. Kami hanya ingin berdua menghabiskan sisa hari ini, mendengarkan lagu ini.

 Kami tertidur. Lama sekali. Entah dalam sadar, entah tidak, kami masih mendengar Duta bernyanyi.

 “Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain.”

 

Circle-K, 24 May 2013