Lisda

Aku tak ingin engkau menjelma menjadi siapa-siapa dalam mimpi itu. Biar saja engkau menjadi seorang gadis bermata gerhana matahari cincin dan dan bibir seumpama pantai dengan ombak tenang namun siap menyeret segala keraguanku.

Rambutmu masih menggapai bahu yang menolak beban kebohongan dunia, dan engkau tetap saja tak perlu berdosa di mataku. Malam tetap hangat, kalau kau tak mau menyebutnya panas di kota ini, tapi siapa di antara kita yang benar-benar peduli cuaca, ketika jarak kita hanya sebatas kepalan tangan saja.

Soto di mangkok kita belum juga dingin. Sedang kau tak henti-hentinya menebarkan pesona, seperti hujan di bulan Januari. Di pinggir jalan, semua ingin didengarkan. Suara klakson, lampu lalu lintas yang mati, jalanan kotor dan derap orang-orang sepulang kerja.

Di Pasar Baru malam seperti kilatan meteor menjelang fajar, tapi di mimpiku malam telah abadi dalam genggammu.

18 September 2012

Iklan

Bumi Meniupmu

Masa lalu adalah langit jingga yang membentang seluas bumi. Menyimpan tubuhmu. Seluruh tubuhmu yang berbau parfum hujan dan air mata. Menabung rumah-rumah luka bercat biru. Mengandung sobekan-sobekan mimpi yang tak pernah dituliskan. Rapat, musim memeluk langit beserta isinya rapat-rapat.

Sebuah jari waktu yang runcing, tumbuh seperti sebuah pohon cemara. Menjulang, menggapai apa saja yang berada di atasnya. Tak pernah memberi ruang untuk apa saja yang berada di atasnya. Jari-jari waktu itu mula-mula menyentuh angin, lalu menembus cuaca, berikutnya merobek langit, memutar hingga ke jantung langit. Menancap tepat di pusatnya. Memburaikan seluruh isinya. Menjatuhkan bintang-bintang kecil, ribuan roh, rahasia-rahasia yang belum pernah diciptakan. Meneteskan dirimu. Segala zat yang terkandung dalam jiwamu. Lengkap dengan segala dukamu.

Aku adalah bumi. Tempat dimana hal-hal baru bisa tumbuh. Berkembang. Tempat dimana biji-biji bisa menjadi bunga, menjadi buah, menjadi warna di luas dunia. Tempat dimana nyawa tetap bertahan merawat hidup. Tempat dimana masa depan dituliskan menjadi kebahagiaan-kebahagiaan yang mendekati abadi.

Aku adalah bumi, tempat ditanamnya gravitasi. Menangkap segala sesuatu yang rebah dengan tangan terbuka. Yang angkuh, yang rapuh, semua yang jatuh kuterima dengan tanpa kecuali.

Di telapak tanganku kau jatuh. Dengan sisa tenaga setelah terpontang-panting di jaring-jaring udara. Matamu masih redup seperti bulan sabit, wajahmu masih tetap memaparkan dongeng yang sebenarnya terjadi dalam hidupmu, gerakanmu masih seperti air sungai. Selebihnya gaunmu berwarna abu-abu.

Kau pandangi tubuhku yang hijau seperti daun suji itu dengan amat teliti. Tanganmu seperti hendak menggapai lagu-lagu yang mengalun di kedalaman nyawaku. Melambai, namun tak juga sampai.

Rupanya kau begitu ingin berlama-lama di tempat baru yang sebenarnya adalah awal mula pijakmu itu. Ingin sekali kau menanam apa saja di atas tubuhku. Bunga matahari, umbi-umbian, wortel, sawi, juga kesetiaan, kasih sayang, kisah cinta, juga puisi. Segala yang bisa tumbuh di atas tanah, sangat ingin kau tanam.

Bukan. Bukan aku tak ingin menjadi bumi yang bisa memberi hidup bagi segala yang hendak hidup, tapi tempat terindahmu bukan di sini. Tempatmu untuk
menabur cinta bukanlah disini. Disini hanyalah tempat awalmu berpijak. Cukup sekali saja berpijak, dan sesekali mengamati. Bukan untuk menciptakan abadi. Tempat kembalinya seluruh hidup dan matimu adalah langit. Langit beserta isi, dan musim yang melindunginya.

Kuletakkan tubuhmu yang sekecil rasa ingin kembalimu itu di telapak tanganku. Kutiupkan mantra-mantra yang kemudian menjadi gumpalan awan, bergerak. Perlahan dia berjalan seperti ayam, lalu melompat seperti kanguru, kemudian melesat seperti cahaya, hingga tak terlihat. Melesat jauh ke langit jingga bernama masa lalu.