Laura

Laura adalah udara pagi yang lebih awal dari pagi. Gairah yang lebih besar dari sekedar rutinitas hidup. Menarik-narik selimutku, menyentuh kulitku yang masih dingin, mengecup kening dan bibirku. Lebih hangat dari kopi di kafe-kafe tengah kota. Lebih sejuk dari angin musim semi. Sebuah tiupan mesra dia hembuskan ke telinga, samar merayap ke dalam pembuluh darah dan nurani. Lalu aku dan dunia serasa hidup kembali. Dia bersihkan mimpi-mimpi yang berceceran di kamarku. Menegakkan kaki-kaki yang rapuh. Sebelum sesuatu mendahului, dia berjalan menuju pintu hari, gordin warna merah di pojok jendela. Lalu dalam satu sapanya. Semesta mengheningkan cipta, sebelum akhirnya pagi dan seluruh dunia kembali terbuka.

Laura adalah embun bening hasil percintaan semalam. Dari langit yang gelap, dihamburkan ke kolam-kolam udara. Berterbangan mengikuti angin yang masih ngantuk. Jatuh di ujung daun-daun yang lancip. Menggigilkan pohon beringin dan trembesi. Beberapa anak burung yang bersarang di sana masuk ke dekapan sayap induknya. Sebelum akhirnya suara adzan menelusup ke bagian-bagian terselubung dari pagi. Membasahi genteng-genteng, kaca mobil, juga bunga sepatu warna merah muda. Dia eratkan pelukannya pada rumput-rumput liar sepanjang jalan. Jagung para petani yang belum siap panen. Mengundang serangga-serangga kecil untuk meminum air yang memancar dari sela jari-jarinya.

Laura adalah cahaya yang berusaha menembus jajaran kabut, dan rimbun pohon. Menggerayang pada genangan kolam yang masih luap. Menusuk-nusuk tanah basah, hingga ke liang rumah semut. Menyilaukan mata seekor kupu-kupu yang baru keluar dari sebuah kepompong yang menggantung di daun jati. Rumput-rumput di halaman memantulkan tubuhnya yang berkilauan, seakan menentang langit, menuju kembali ke langit. Dia masuk ke dalam mata para wanita yang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya sebelum berangkat ke sekolah, segelas teh hangat untuk suami mereka sebelum melawan hari. Bekerja. Dia, cahaya yang berbondong-bondong dari barisan bukit, menuju
sungai-sungai, jalan raya menuju kota, dan danau buatan di ujung desa. Dia adalah denyut hari, dia adalah kehangatan.

Laura adalah musik alami yang menelusup ke ruang-ruang paling sunyi. Yang belum sempat terjamah oleh apapun. Dia ada dalam gemericik air di sungai-sungai kecil, berbenturan dengan batu kali. Di antara angin yang menggesekan daunan menjadi bunyi-bunyian khas. Musik alami. Suara burung emprit yang masuk ke telinga pot-pot, sapu lidi, dan cangkir yang masih kotor. Adalah suara derap kaki para ibu yang sedang memasak kasih sayang untuk keluarganya. Adalah bisikan-bisikan rahasia para pecinta untuk kekasihnya. Dia, adalah paduan suara pagi hari.

Laura adalah mukjizat. Laura adalah segala sesuatu. Laura adalah miniatur surga. Laura adalah pagi.

Bagaimana Jika

“Bagaimana jika kita tak pernah bertemu?”

Pasti kita bukan siapa-siapa. Aku akan tetap menjadi serigala hutan, dan kau akan tetap menjadi angsa yang berenang di danau yang penuh teratai. Jika suatu saat kita bertemu di hutan, kita tak akan pernah saling menyapa. Jika salah satu di antara kita terluka, pasti tak akan ada yang merawat. Tak akan pernah ada doa-doa.

“Bagaimana jika akhirnya kita tidak punya cinta?”

Pasti kau dan aku tak lebih dari sebuah kerikil di tengah jalan. Orang-orang akan menendangnya. Mobil-mobil dengan congkak akan melindasnya. Pun jika bernyawa, kita tak ubahnya mumi yang berkeliaran di tengah kota. Tubuh-tubuh kaku tanpa rindu. Tubuh-tubuh dingin, tanpa rasa. Ada atau tak ada di dunia kita sama saja.

“Bagaimana jika surga itu hanya omong kosong belaka?”

Pasti kita meledak tak terkendali. Berbuat apa saja seliar nafsu, melesat ke langit, atau tersungkur ke pusat bumi. Aku akan menjilat nodamu. Kau akan menodai lidahku. Orang-orang membuat surga sendiri dengan cara mereka. Orang-orang hilang arah tujuannya, tapi orang-orang juga tak lagi berdebat, tak lagi saling bunuh, hanya untuk membela “hanya surga Tuhanku yang paling nyata”.

“Bagaimana jika nyawa kita hanyalah pinjaman yang akan segera diminta”

Pasti kita akan menggenggam erat-erat nyawa itu di tangan kita. Kalo perlu menyimpannya dalam peti dengan gembok paling kuat, dengan kode paling rumit. Berusaha bagaimana caranya agar nyawa itu tak berpindah tangan ke penagih nyawa. Tapi ternyata semua itu sia-sia, si penagih nyawa dapat dengan mudah menemukannya. Ketika tinggal sepersekian detik dia mengambil nyawa, kita coba rayu dia, menawarkan seluruh apa yang kita punya, harta kita, laut kita, pulau kita, asal nyawa jangan diminta. Tapi sia-sia. Hingga kitapun memakai cara yang paling gila, mencoba menikamkan pisau ke tubuhnya. Percuma. Tak berpengaruh apa-apa buat dia. Dengan mudah dia mengambil nyawa itu, lalu pergi, tertawa puas layaknya raja duka dari seluruh dunia.

“Bagaimana jika akhirnya Adam tak pernah makan buah khuldi ketika dulu di surga?”

Pasti tak ada ledakan dahsyat di semesta. Tak perlu ada 7 hari penciptaan. Tak perlu ada 7 lapis langit, tak ada yang perlu hidup selain di surga. Tak akan pernah ada kamu, tak juga kamu, tak ada kita.