Siklus Hujan

amla

Ada sabda yang sengaja terucap. Kata-kata yang menjadi kumpulan awan abu-abu. Tertiup angin utara. Sempat melewati pohon-pohon angsana berdebu. Rel kereta yang kokoh dan dingin. Sebagian lagi menjadi embun yang mengabut di jendela kaca kereta. Orang-orang memandang pemandangan di luar sambil menuliskan nama kekasihnya di kaca jendela kereta yang mengembun, berlama-lama memandangnya, berharap orang lain tak melihatnya, menertawakan hal tak lucu yang dibuatnya sendiri, sebelum kemudian menghapusnya.

Di atas rumahmu yang bergenteng merah bata. Di antara pohon-pohon mahoni yang berderet di sepanjang barat rumahmu. Seekor kelelawar menabrak pohon beringin. Sebentar lagi maghrib. Warna jingga di langit yang hampir habis. Kumpulan awan dari sabda akan mengejawantahkan takdirnya sebagai hujan. Di bawah langit yang memayungi kampung lembah. Di atas rumahmu. Gerimis lebih khusyuk dari segala yang hadir di maghrib itu. Bahkan sunyi yang telah begitu hapal seluk-beluk senja di sini.

Hujan telah menemukan pembaringan yang menyenangkan. Dia hinggap di ranting pohon mangga, meluncur pada lembar-lembar daun pisang yang digoda angin, bergoyang goyang seperti penyanyi dangdut, kemudian rebah di kerikil batu jalanan yang berlumut, sebelum akhirnya luruh, mengikuti arus kecil. Menuju sungai-sungai kecil. Menuju sawah dan waduk.

Engkau memandang langit-langit kamar. Mendengarkan ritmis kaki-kaki hujan yang menyentuh atap. Dingin menyergap dari sela-sela jendela setengah terbuka, di antaranya sesuatu yang magis seperti menggerayangi dinding-dinding kamar yang mulai mengelupas catnya. Di luar, kau lihat hujan menjadi begitu akrab dengan para penghuni kebun. Pohon kelapa, pohon jati, rumpun-rumpun bambu, siput pemalas, juga katak bangkong yang mulai keluar dari balik batu.

Tiba-tiba saja sesuatu muncul di antara sadar dan ketidaksadaranmu. Sesuatu yang tak terlalu kau pahami. Sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang setelah percakapan absurd satu jam di ruang kelas. Sesuatu yang membekas di jantungmu seperti sebuah penyakit yang selalu membuat berdebar. Sesuatu yang tak kau inginkan, tapi juga tak ingin kau lepaskan. Sesuatu yang ingin kau taburkan saja ke serbuk-serbuk hujan. Agar terbawa oleh air yang bijak, yang begerak mengikuti arus, menuju sungai, berjalan tak kenal lelah hingga jauh, hingga bermuara ke tubuh-tubuh laut. Agar nantinya ketika matahari bersinar begitu cerahnya, ia bisa menguapkannya kembali air dan rasa yang pernah kau taburkan di dalamnya, menampungnya di kampung langit, lalu membentuknya menjadi gumpalan awan. Gumpalan awan yang akan terbang ketika ditiup angin. Berputar-putar, menemukan tempat yang tepat untuk mendarat, hingga akhirnya jatuh di atas atap seseorang yang telah menciptakan rasa yang belum juga kau pahami. Seseorang yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk sekedar melintas di kepalamu. Seseorang yang kau pahami sebagai aku.

Iklan

Episode Sederhana

aku hanya ingin duduk di depanmu

memandang pucat senyummu

berbicara sesuatu yang tak ada gunanya

hingga dinding-dinding menepi

hingga pagi mengabut lagi

aku hanya ingin berbaring di sampingmu

sembunyikan tangan di balik kepala

memandang langit-langit redup cahaya

berbicara tentang air, api, dan udara

hingga malam melepas jaring-jaringnya

bibir-bibir yang tergoda

2009-2012