Jika Kita Membeli Udara.

Beberapa hari yang lalu saya sempat curhat dengan seorang teman yang saya kenal lewat twitter. Seorang teman yang belum pernah saya lihat sebelumnya, tapi sudah akrab komunikasi di twitter. Ya, kemajuan teknologi telah mendobrak tembok pembatas.

Saya berani berbagi cerita ke orang asing sepdrti dia, karena dia orangnya inspiratif, optimis dan bersahabat. Kata katanya layaknya seorang motivator yang membangkitkan semangat.

Dari sekian panjang lebar berbicara dengannya, dapat saya tarik kesimpulan, bahwa kunci ketenangan hidup manusia adalah syukur dan ikhlas menerima apa saja yang diberikan oleh Tuhan.

Kita lebih sering mengeluh, mencari cari yang tak ada, dan melupakan, mensyukuri apa yang di depan mata. Padahal jika kita mau merenung sejenak, subhanallah, nikmat Tuhan itu tak ada habisnya.

Cobalah sejenak kita berhenti membaca tulisan ini, lalu merenung, melihat apa saja yang ada di sekitar kita.
Udara, kita dapat secara cuma cuma. Mata, kita bisa melihat sesuatu tanpa mengeluarkan biaya. Mulut, alat kita makan dan berbicara, belum lagi tangan, kaki, otak. Itu baru yang menempel di tubuh kita belum lagi yang ada di sekitar kita, handphone, makanan, teman, keluarga. Bila diuangkan, saya rasa kita tak akan mampu memabayarnya.

Saya bukan mencoba untuk menggurui. Jujur, saya sendiri masih suka mengeluh, karena pada dasarnya manusia itu tempatnya keluh kesah. Tapi dengan berbagi seperti ini, kita bisa belajar bersama. Belajar untuk terus mensyukuri nikmat
yang ada.

Iklan