Monolog Sungai

Aku nyalakan sebatang rokok. Ini adalah rokok ketiga dalam sehari ini, namun baru tiga kali hisap, rasanya dadaku sudah tak kuat lagi. Bukan karena ada penyakit yang menggerogoti tubuhku (sesunguhnya aku tak benar-benar tahu, ada atau tidaknya penyakit yang bersarang dalam tubuhku). Aku rasa ini lebih karena ada sesuatu tak dikenal yang sedang mengoyak-oyak hatiku.

Aku matikan lagi rokok yang bahkan seperempat batang belum terbakar itu. Aku memandang kosong ke depan. Hmm.. sebenarnya bukan memandang kosong, tapi mendengarkan percakapan antara hati dan pikiranku. Jika hanya sepintas mungkin yang ada cuma bunyi-bunyian sunyi, tapi jika didengar dengan seksama, sebenarnya ada riuh di dalam sana. Hati dan pikiran. Mungkin mereka tak pernah sadar bahwa ada seseorang, tempat mereka tinggal, diam-diam sedang memperhatikan pembicaraannya. Siapa yang sedang mereka bicarakan? Kamu adalah tokoh favoritnya.

Hati itu bilang “Bagaimana mungkin sesuatu yang mustahil ini bisa terjadi? Kita yang bahkan belum pernah bertemu bisa menanam cinta di ladang yang sama. Aku tak ingin buru-buru menyebutmu sebagai utusan Tuhan, mungkin lebih tepatnya adalah sebuah kebetulan. Kebetulan yang berulang-ulang. Tapi bukankah tak ada kebetulan dalam dunia ini, segala sesuatu itu telah direncanakan oleh Tuhan. Lalu jika Dia telah berencana, apa yang bisa kita lakukan selain memainkan peran-Nya. Kita ingin menjelma menjadi air sungai, mengalir saja sampai akhir muara, tapi mana mungkin air dari mata air yang berbeda dan telah bertemu di sungai yang sama ingin mengalir sendiri-sendiri, padahal sungai itu hanya punya satu tubuh. Mau tak mau kita harus mengalir bersama. Beriringan.

Baiklah, jika sekarang engkau dalam tubuh yang sama dengan tubuhku, mengapa engkau mencoba keluar dari wujud ini? Aku adalah hati, tak bisa semudah itu memahami apa yang kau inginkan. Kau bilang, kau hanya ingin mencoba memegang jemari-jemari rumput itu. Tak ada yang lebih selain itu. Aku adalah air dengan gelombang yang pasang. Aku bisa menelan apa saja yang kuinginkan. Bahkan langit.”

Pikiranku terbahak-bahak mendengar apa yang baru dibicarakan hatiku, diam-diam aku ikut tersenyum.

Pikiran itu memasang muka sumringah kemudian dia bicara :

“Aku biarkan kau menjadi apa saja yang kau mau. Engkau adalah kemerdekaan yang agung. Kau bebas menuju muara yang kau mau. Kau boleh menuju ke Samudra Atlantik, kau bebas bermuara ke Samudra Hindia. Toh, jika kau memang benar-benar ingin menjadi bagian dalam tubuhku, kau akan mengikuti kemana aku mengalir. Selalu di sampingku hingga muara akhir tujuan. Jalan masih terlalu panjang untuk jiwa kita yang masih hijau, terlalu bodoh jika hanya mengikuti gelombang yang pasang tanpa alasan. Ada hal-hal penting lain yang harus kita pikirkan. Pulau-pulau impian. Masa depan. Kembali sebagai air, kita akan kembali mengalir, mengikuti belokan-belokan tajam, tikungan berbatu, sungai-sungai sepanjang hidup. Bahkan meski arah kita berlawanan, atau lembah-lembah memberi kita batas yang amat jauh, jika kita percaya bahwa kita sebenarnya adalah satu tubuh, pasti Tuhan Sungai akan mempertemukan kita dalam muara yang sama.”

Aku sekarang percaya bahwa pikiran adalah makhluk paling bijak di antara penghuni lain di tubuhku. Kulihat wajah pikiran, sambil tersenyum kuacungkan sebuah jempol untuknya. Dia lalu membalas dengan senyuman.

Aku bangun dari tempatku bersandar. Berjalan beberapa langkah ke depan. Menuju pintu. Membuka pintu lebar-lebar, membiarkan ratusan cahaya masuk berebutan.

Aku tersenyum sambil memandang jauh ke depan. Sebuah doa berwarna emas kutiupkan ke sana, ke sungai yang terjauh.

Kur Kur Kur

Aku punya beberapa ekor ayam. Ah, lebih tepatnya itu bukan ayam-ayamku, tapi punya ibuku. Aku tak punya hak untuk itu. Aku lupa, berapa jumlah mereka. Mungkin sepuluh, mungkin sebelas, atau dua belas. Tapi bisa kupastikan jumlah mereka tak sampai dua puluh ekor. Ya, kami memelihara ayam bukan untuk berternak. Bukan sebagai gantungan hidup, hanya untuk kesenangan/investasi kecil-kecilan saja.

Aku tak pernah benar-benar bisa membedakan jenis ayam, selain dari warna bulu, jenis kelamin, atau besar kecil ukuran tubuhnya. Ayam-ayamku, maksudku ayam-ayam ibuku ini yang besar (induk) ada dua ekor, sementara belasan lainnya masih kecil. Tak terlalu kecil sebenarnya, karena sudah pisah dari induknya. Dulunya anak-anak ayam ini selalu mengikuti kemana induknya pergi. Kemanapun induknya mencari makan, mereka selalu membuntuti di belakang ekornya. Tapi, lama kelamaan anak-anak ayam ini dilepaskan, mungkin disuruh mencari makan sendiri oleh induknya. Mirip seperti apa yang terjadi di kehidupan kita juga, manusia.

Setiap pagi aku selalu memberi mereka makan. Mereka paling suka diberi makan jagung atau nasi sisa kemarin yang telah dikeringkan. Waktu pagi hari, datanglah ke belakang rumahku, lalu ucapkan “kur, kur, kur” maka ayam-ayam itu akan segera menyambutmu dengan gembira. Kata-kata tadi adalah semacam panggilan kepada mereka, mungkin bila diterjemahkan dalam bahasa ayam artinya; “saatnya makan, waktunya sarapan”. Tapi aku masih sangsi jika yang memanggil tadi bukan aku, apakah ayam-ayam itu akan datang juga, bukan apa-apa, ayam itu sudah terbiasa dengan aku.

Setelah dipanggil, puluhan ayam itu akan berlari ke arahku, lalu mengelilingiku. Aku mirip seperti seorang raja yang dikelilingi rakyatnya. Raja ayam. Lucu sekali jika raja ayam itu memang benar-benar ada.

Kali ini aku memberi mereka jagung. Ini adalah makanan favorit mereka. Kulemparkan segenggam jagung ke arah mereka, lalu mereka akan segera berebutan memakannya.

Di dunia ayampun hukum bahwa yang besar lebih berkuasa dari yang kecil, ternyata berlaku juga. Saat berebutan makanan, ayam besar akan mematuk ayam kecil yang ada di dekatnya, lalu ayam-ayam kecil itu akan pergi menjauh, ketakutan. Ayam besar berusaha menguasai makanan yang ada. Karena ayam-ayam kecil ini tak berani mendekat, maka kulempar jagung ke sisi lainnya. Ayam-ayam kecil ini langsung buru-buru menyerbunya, namun tak lama kemudian, ayam besar ini akan menyerobot makanan si ayam kecil, merekapun kembali bubar, ketakutan. Padahal sisa jagung milik ayam besar tadi belum habis, masih banyak malah, tapi karena terlalu bernafsu, jadi semua berusaha dikuasainya. Kulemparkan lagi jagung ke arah ayam ayam kecil, namun lagi-lagi ayam besar akan menyerobotnya. Begitu terus sampai jagung di genggaman tanganku habis, ayam besar itu selalu merebut makanan ayam lain, dan akhirnya dia malah tak menikmati apa yang dia punya, karena terlalu sibuk “merampas” makanan yang lain.

Kadang aku kesal juga dengan tingkah ayam besar ini. Kadang aku lempar batu kecil ke arahnya biar dia pergi, agar ayam-ayam kecil ini bisa bebas makan tanpa ada rasa ketakutan. Tapi sebenarnya aku lebih sering membiarkan ayam-ayam itu bertingkah semau mereka, karena aku pikir begitulah hukum di dunia binatang, begitulah kehidupan mereka seharusnya. Mungkin ayam besar itu dulu, waktu kecil juga selalu diusir ayam besar lain saat pembagian makanan, dan kemungkinan besar juga ayam-ayam kecil ini akan bertingkah seperti ayam besar pula nantinya. Ya, sepertilah hukum mereka. Ya, karena mereka binatang. Bukan manusia.

Setelah jagung di genggaman tanganku habis, aku pergi. Setiap selesai memberi ayam-ayam itu makan, akupun selalu berpikir, mengingat ingat, sepertinya tingkah ayam besar yang selalu menyerobot hak yang lain, berusaha menguasai segala yang disekitarnya, karena terlalu rakus, sampai sampai dia malah tak menikmati apa yang dia punya itu mirip perilaku seseorang. Dan ternyata tak susah buat kita, mengingat siapa yang bertingkah seperti itu di kehidupan manusia, karena sifat itu sangat mudah kita jumpai di sekitar kita, di lingkungan kita, di dekat kita. Bahkan kadang terlalu dekat dengan kita, sampai-sampai sifat itu dengan hati kita tak ada batasnya. Menempel sejak lama.