Aku Dan Seseorang Dalam Foto

Malam ini adalah deadline-ku menulis, tapi entah kenapa inspirasi tak mau datang membantuku. Sudah kuhubungi berkali-kali tapi tak ditanggapi. Sms tak dibalas, telponpun tak diangkat. Aku jadi berpikiran, apakah dia marah padaku? Kalau memang marah, apa salahku? Atau dia memang sedang pergi, ada janji dengan penulis lain. Mungkin menghadiri pesta. Atau cuma main-main saja?

Tak baik sepertinya, jika aku hanya menunggu dia yang tak jelas keberadaannya. Hanya membuatku pusing tak jelas begini. Maka kuputuskan untuk membuat segelas kopi dan menyalakan sebatang rokok. Mungkin bisa membuatku lebih rileks. Sambil memilih-milih buku lama yang layak dibaca malam ini.

Sudah hampir lima belas menit aku memilih-milih buku yang berada di rak, kupilih dari rak atas, sampai ke bawah, tapi tak juga kutemukan buku yang menarik. Kucari lagi buku-buku yang tertata di meja. Di sini koleksi buku-buku yang agak baru. Mataku bergerilya, mencari buku yang asik untuk membunuh sepi, tapi tak juga aku temukan buku yang menarik. Ah.

Padahal membaca buku adalah salah satu senjata paling ampuh untuk membunuh bosan, dan sepi, tapi kali ini sepertinya percuma. Mungkin memang dari awal moodku sudah hilang, gara-gara inspirasi yang susah dihubungi.

Lalu mataku tak sengaja mengarah pada sebuah foto berbingkai, yang berdiri di atas meja. Foto seorang lelaki yang memakai-shirt warna biru, rambut agak gondrong, dengan latar pemandangan pantai, sedang tersenyum. Itu adalah fotoku tiga tahun lalu. Terlihat norak dan urakan. Ah, sebenarnya tak terlalu beda dengan aku yang sekarang. Sama saja.

Foto itu diambil ketika aku berlibur dengan sahabat-sahabatku di sebuah pantai di ujung pulau di akhir tahun. Liburan bersama sahabat-sahabat dari tempat aku bekerja dulu. Aku ingat, beberapa bulan setelah berlibur di pantai itu aku berhenti bekerja dan memutuskan untuk bekerja sendiri sebagai penulis lepas. Ya, pekerjaanku yang sekarang memang berbeda dengan pekerjaanku yang dulu, tapi aku menyukainya, dan aku pikir aku mampu.

Ah, sahabat-sahabatku itu, mereka gila semua. Susah menemukan orang-orang seperti mereka. Aku sungguh merindukan mereka. Suatu saat akan kudatangi lagi mereka. Memberi kejutan pada mereka, lalu menggila lagi bersama.

Lama kuperhatikan, foto itu lama-lama senyumnya makin lebar. Bukan senyum biasa, tapi senyum itu bergerak, foto itu bergerak, dan sekarang tak hanya tersenyum, tapi tertawa. Suaranya terdengar jelas, tak hanya itu, gambar ombak di pantai itupun bergerak. Kupukul-pukul kepalaku, kukucek mataku, memastikan bahwa aku memang tak sedang bermimpi. Benar, aku masih sadar. Aku tak bermimpi.

Sosok diriku dalam foto itu kemudian keluar dari dalam bingkai. Jangan tanya bagaimana caranya, aku sendiri juga bingung. Seperti dalam film-film, tubuhnya yang kecil itu perlahan-lahan keluar dan sekarang dia berdiri di hadapanku, dengan senyum sok cool-nya. Aku mundur beberapa langkah, menjauh darinya.

“Hai, Vu. Kenapa? Takut? Nggak usah takut”

“Bagaimana bisa kau bisa keluar dari foto itu? Bagaimana kau bisa hidup?” aku gugup.

“Kau tak perlu memikirkan darimana asalku, atau bagaimana aku bisa tiba-tiba ada. Aku hanya ingin membantumu”

“Maksudmu?”

“Kau sedang stress bukan? Ayo ikut denganku” sosok lain diriku itu mencoba menarik lenganku, tapi aku menghindar. Menjauhkan tanganku darinya.

“Ayolah, Vu. Aku adalah dirimu. Kamu adalah diriku. Kita ini sama. Tak mungkin aku mencelakaimu. Tak mungkin aku mencelakai diriku sendiri.”

Benar juga, kataku dalam hati. Dia benar, aku memang sedang stress, sedang kesepian. Tak ada salahnya jika aku mengikutinya. Mengikuti diriku sendiri.

“Kita mau kemana?”

“Ayolah, aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang”. Dia menggandeng tanganku, lalu mengajakku masuk ke dalam bingkai foto itu. Tubuhku terasa seperti ditekan, lalu aku seperti terbang, memasuki lorong-lorong gelap sebelum akhirnya jatuh di pantai. Bruk!

Sosok lain diriku itu tersenyum padaku. Sepertinya dia bisa membaca pikiranku. Dia tahu bahwa aku tiba-tiba menjadi orang yang paling bingung sedunia.

“Kenapa? Kau bingung Vu? Tak usah bingung. Kau aman bersamaku. Bukankah kau suka pantai? Nikmati apa yang ada di depanmu, dan bersenang-senanglah”.

Aku memang bingung, tapi tak bisa kupungkiri, pantai di hadapanku ini sungguh indah. Hebat. Pasir yang putih dari ujung ke ujung. Berkilauan, dan seakan berbisik “ayo, ayo, rebahkan tubuhmu”. Ombak yang sedang, dari perut laut menggulung ke bibir pantai, seperti rindu yang tak pernah selesai untuk dituntaskan. Buih-buih, yang keburu pecah dihantam ombak sebelum menjadi besar. Lalu batu-batu besar di sekitar laut, yang ukurannya hampir sebesar rumah. Langit biru yang bertabrakan dengan laut biru pula. Matahari begitu cerah. Dan air yang begitu jernih. Ah, sempurna. Hampir mendekati surga.

Tak ada siapa-siapa disini, hanya aku dan sosok lain diriku. Wah serasa diberi surga kecil oleh Tuhan.

“Ayo Vu, kita bersenang-senang” dia menarik tanganku. Tanpa melepas baju atau celana, aku langsung ikut menceburkan diri ke pantai.

Segar rasanya. Kubenamkan kepala dan seluruh tubuhku ke laut. Lalu membiarkan ombak membawa tubuhku hingga ke pantai. Menyenangkan. Sudah lama aku tak merasakan laut. Terakhir, ya waktu aku dengan sahabat-sahabatku itu. Aku terlalu sibuk dengan deadline, hingga tak bisa meluangkan waktu untuk melihat dunia luar.

Setelah puas berenang, aku lalu berjemur. Membiarkan cahaya matahari menikmati tubuhku. Ini juga momen favoritku. Entah dapat darimana, sosok lain diriku itu tiba-tiba datang padaku sambil membawa kelapa muda. Salah satunya diberikan padaku. Siang yang terik, minum kelapa muda. Tak ada yang menandingi nikmatnya.

“Kau senang, Vu”

“Ya, senang. Senang sekali. Bagaimana kau bisa tahu tempat seindah ini?”

“Aku hanya ingin menyenangkanmu, menyenangkan diriku sendiri”.

“Hahahaha.. Terima kasih telah membawa ke tempat seperti ini, telah menghilangkan stressku. Tadinya aku pikir, kau mau membawaku ke tempat menyeramkan, ternyata aku salah”

“Vu, jangan pernah berpikiran seperti itu pada dirimu sendiri. Apakah kau tak pernah sadar, ketika orang lain yang kau butuhkan tak datang, kau lari kemana? Ke dirimu sendiri kan? Dirimu adalah satu-satunya sahabatmu yang paling setia”.

Aku terdiam, merenungkan apa yang dia katakan. Lagi-lagi dia benar. Aku adalah sahabat paling setia untuk diriku.

Kemudian sosok lain diriku itu mendekat padaku.

“Kau sudah nikmati harimu. Sekarang waktumu untuk pulang”.

Sosok lain diriku itu menggandeng tanganku.

Telpon Pagi

Segelas kopi susu di atas meja belum juga dingin, ketika kabut menjadi dinding-dinding tebal di antara pagi dan realita.

Suara Hugh Grant memang tak seempuk suara John Mayer, tapi aku yakin Zeus pun tak menolak jika aku bilang, duet Hugh Grant dengan Haley Bennett dalam Way Back Into Love ini menjadi semacam nada-nada surga di pagi hari. Iramanya, suara pianonya, ketukannya, ah magic. Aku tak benar-benar paham tentang musik, tapi aku semacam terpuruk dalam-dalam pada lagu ini.

Jika kau melarangku merokok saat ini, kau hanya akan menemukan sia-sia. Setengah batang nikotin telah menyelinap ke paruku. Bukan apa-apa. Aku dan rokok memang bukan sahabat setia, tapi kadang ia adalah teman ngobrol yang seru.

***

Sudah berapa lama kita tak saling tegur sapa? Dua jam? Dua hari? Dua minggu? Dua tahun. Aku tak benar-benar pandai menghitung. Dari awal aku juga tak memberi lingkaran dalam angka-angka kalenderku. Mungkin dalam bahasa Indonesia, waktu aku tidak menghubungimu itu diterjemahkan sebagai : lama sekali.

Kita menjadi jauh karena sebuah konflik? Ah, aku tak pernah menyebutnya seperti itu. Aku lebih suka mengibaratkan kita sebagai dua anak kecil yang berjalan berdua, bergandengan tangan untuk membeli sebuah es krim. Lalu di tengah jalan tiba-tiba ada jalan yang bercabang. Seorang di antara mereka bilang, bahwa penjual es krim itu berada di belokan jalan yang ke kanan, sementara seorang yang lain bilang bahwa penjual es krim itu letaknya di belokan jalan sebelah kiri. Mereka sama-sama yakin, bahwa pendapat mereka adalah yang paling benar. Mereka sama-sama keras kepala. Maka kedua anak itupun berpisah. Satu menuju kanan, satu lagi belok kiri. Sampai saat ini, kedua anak itu tak kembali ke jalan yang sama lagi.

Sejak saat itu, kita berlomba-lomba untuk saling melebarkan jarak. Seolah ada juri tak terlihat, yang membuat peraturan bahwa orang yang menyapa duluan adalah orang yang kalah.

Tapi pagi ini, semacam ada suara ghaib yang memenuhi kepalaku, (mungkin suara jin rumah) bahwa aku harus segera menghubungimu, menanyakan kabarmu, lalu menjadi wartawan yang memberondongmu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting tentang apa yang telah kau lakukan akhir-akhir ini. Layar-layar ghaib juga dibentangkan di kepalaku, lalu diputarnya adegan-adegan lucu kita dulu. Tentang perburuan buku puisi Sapardi ke pasar-pasar loak, tapi tak juga ketemu, dan kita malah makan ketoprak di pinggir pasar yang rasanya tak terlalu enak. Tentang kencan-kencan tak romantis kita di stasiun. Tentang pengalamanmu naik busway pertama kali, lalu kau bilang kau malu. Ah. Betapa norak kita waktu itu.

Baiklah, aku harus melakukan pekerjaan berat pagi ini. Berbuat jujur pada diri sendiri. Jujur bilang pada diri sendiri bahwa aku rindu kamu. Tiba-tiba mengkhawatirkanmu. Terserah kau mau bilang apa. Mungkin kau akan bilang bahwa aku telah kalah menahan rinduku atau entah apa yang akan kau ucapkan, tapi dalam kamus baru ciptaanku, pemenang adalah orang yang ketika ada acara diam, dia yang lebih dulu menghancurkan gunung es, dengan menyapanya.

Sekarang kuambil handphoneku yang dingin. Masuk ke menu, mencari phone book, memasukkan huruf depan namamu lalu pencet “search”. Sambil menunggu handphone bekerja mencari namamu, maka aku menikmati degup jantungku yang makin cepat. Degup jantung yang menerka-nerka apa reaksi yang terjadi padamu ketika aku menelponmu. Tak akan mengangkatnya, menanggapi dengan dingin, atau gembira sekali, tapi berlagak sok adem-adem saja.

Nah! Namamu sudah ditemukan, sekarang tinggal pencet “panggil”, lalu kutempelkan handphone dingin itu di telingaku. Jantung semakin pintar menabuh gendang. Suara bertalu-talu, kecepatan berpacu. Lalu tiba-tiba menjadi suara yang pelan dan lirih saat seseorang yang tak kukenal di luar sana bilang :
“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah hubungi beberapa saat lagi”
berkali-kali. Lebih dari tiga kali.

Mayday, mayday. Sepertinya kau dan nomor telponmu telah mati pagi ini.