X & Y

X : mengapa kau selalu berbicara tentang seks?

Y : apakah seks itu barang tabu?

X : bukan begitu. Mmm.. Tapi mungkin begitu. Menurutku begitu.

Y : apa kau tak tahu, bahwa seks itu kebutuhan manusia juga, kau lahir dari sebuah hubungan seks juga kan?

X : benar, tapi rasanya kau perlu tempat yang tepat untuk membicarakan itu.

Y : tempat yang tepat? Hey, dimana harus kutemukan tempat yang tepat? Di kamar mandi? Di kamar kost yang terkunci rapat? Atau di ruang ganti. Ini dunia digital, kau tak akan bisa bersembunyi.

X : aku tahu, tapi ada orang orang yang belum seharusnya mendengar ocehanmu itu.

Y : hey, memangnya apa yang aku bicarakan? Aku bisa memilah milah, mana yang harus kuajak berbicara, mana yang bukan.

X : aku tetap tak suka kau berbicara tentang seks.

Y : kau jangan munafik, kaupun butuh seks. Kau terlalu kuno, kau perlu keluar rumah. Atau jangan jangan kau tak punya pacar.

X : agama melarang.

Y : oke. Aku tak mau memasuki wilayah agama. Aku menjunjung tinggi Tuhan, dan aku tahu mana yang harus kulakukan.

X : kau terlalu sering nonton film Amerika.

Y : kau perlu membuka mata dan melihat realita.

***

NB : Sebuah obrolan imajiner tentang perdebatan seks di tengah malam. Aku tak menyuruhmu berpihak ke ” X ” atau ke ” Y ” berpihaklah pada dirimu sendiri. Akupun begitu.