Ketoprak

1.

Ketika itu kita baru saja selesai berburu buku kumpulan sajak Sapardi di sebuah pasar loak di pinggir kota. Bukan malang, tapi aku rasa buku itu memang susah ditemukan. Sedikit kecewa, tapi kuambil juga beberapa buku yang tak begitu kusuka. Sekedar pengingat bahwa kita pernah menjejakkan kaki di tempat ini.

Matahari seperti para penguasa di negeri ini. Jauh dari kita, tapi sombongnya menusuk hingga ke liang hari-hari. Kota, seperti sudah menakdirkan dirinya sendiri, sebagai surga sekaligus neraka. Sedang wajahmu memasang senyum, menutupi keletihan-keletihan yang sebenarnya tak bisa kau sembunyikan dariku. Kau selalu begitu, tak pernah mau terlihat lemah di mata selain matamu. Tak pernah ingin menjadi beban bagi seseorang di sampingmu. Tapi aku bukan mereka. Aku adalah aku, bayangmu.

“Kita makan dulu yuk.”

“Makan apa?” matamu menghentikan mataku.

“Panas-panas gini sih enaknya makan bakso, tapi dari tadi aku gak liat ada yang jualan bakso. Mmm.. Eh, itu ada ketoprak. Mau?”

“Boleh.”

Sekali lagi kau bukan pembohong yang baik di depanku.

Kita melangkah beberapa meter ke depan. Sempat kulihat cahaya memantul melalu keringat yang mengalir di pipimu.

Satu yang aku suka darimu, adalah kau wanita yang tak pernah macam-macam. Selalu mudah untuk menerima sesuatu. Selalu memandang hidup dengan kacamata yang sederhana. Meski dunia terus-menerus memperumit tubuhnya.

Aku tak pernah benar-benar tahu, makanan dari lontong, tahu goreng, dan bihun yang dicampur dengan bumbu kacang itu berasal darimana. Yang kutahu paduan itu sekarang sudah ada di depanku. Kau tak suka pedas, sementara lidahku tak bisa merasakan sesuatu kecuali rasa manis dan pedas.

“Selamat makan.” katamu. Sambil berdiri, membungkuk, dan melebarkan tangan. Menirukan sebuah adegan iklan di televisi.

“Garing.” kataku. Lalu kita tertawa terbahak-bahak.

Sementara beberapa lalat berputar-putar di udara. Pedagang ketoprak kembali menyalakan rokoknya, lalu lalang mobil, udara memuai dihirup matahari, seperti sekumpulan roh, dan sepiring ketoprak yang makin lama, makin tak bersisa.

Hidup seperti sebuah pertunjukan sulap. Sayang, kita bukan pemain sulapnya, kita hanya penonton. Penonton yang hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang akan bertepuk tangan jika pertunjukan mengasikan, atau berteriak dan sedikit menutup mata, jika pertunjukan itu mengerikan.

Akupun tak pernah berpikir, bahwa episode makan ketoprak kita di pinggir jalan itu adalah episode terakhir dalam hidup kita. Kau telah hilang, atau mungkin menjadi bunga-bunga, atau mungkin telah menjadi awan yang berbentuk ikan, yang selalu muncul di atap rumahku ketika jam 5 sore, atau mungkin kau malah telah menjadi bulan. Yang pasti, setelah pertemuan yang perpisahan itu. Wujudmu, tak pernah lagi ada di hidupku.

2.

Dia bermata sipit, dengan bibir yang tipis sempurna. Rambutnya yang lurus, menggapai sesuatu di bawah bahunya. Waktu itu petang hampir merubah wujudnya menjadi malam. Angin melintas pelan-pelan seperti orang yang sedang sakit.

Setelah lelah mengelilingi pantai. Dan mencari-cari sesuatu untuk mengisi perut, karena tenaga yang telah terkuras, akhirnya kami putuskan untuk berhenti di sebuah gerobak ketoprak. Ada beberapa gerobak makanan di sini, nasi goreng, pecel ayam, juga mie ayam, tapi entahlah, dia memutuskan untuk berhenti di sebuah gerobak ketoprak.

Sebenarnya dia mengajakku pergi ke sebuah restoran cepat saji, tapi karena letaknya terlalu jauh, maka kami putuskan untuk makan disini saja.

Mukanya cemberut, dia kesal, karena terlalu capek berputar-putar mencari makanan tapi tak ketemu juga. Ah, dia memang seperti itu. Manja, setiap keinginannya harus dipenuhi, jika tidak, maka dia akan uring-uringan. Keras kepala adalah kata yang tepat untuknya. Tapi, cinta selalu lebih berkuasa dari logika.

“Kamu tahu kenapa bulan tak datang malam ini? ” tanyaku, sambil menatap wajahnya yang tak menoleh kepadaku. Dia sedikit melirik, lalu menggeleng. Masih tanpa ekspresi.

“Bulan itu tak akan muncul sebelum seorang bidadari tersenyum. Makanya senyum dong.”

Dia menarik sedikit garis bibir di wajahnya.

“Gombal.” katanya. Kemudian kembali memalingkan wajahnya dariku.

Ketoprak malam itu terasa begitu lebih banyak porsinya. Entah memang benar-benar banyak atau perasaanku saja. Meski terasa lapar, tapi setelah memasukkan dua sendok ketoprak ke dalam mulut, rasanya aku tak nafsu makan lagi.

Selama kami makan tak ada sebuah kalimat yang sempat meluncur dari bibir kami berdua. Bukan karena kami terlalu sopan, tapi entahlah aku tiba-tiba jadi ikut malas pula membuka pembicaraan, atau menggodanya lagi.

Diapun seperti ogah-ogahan memasukkan makanan dalam piring itu ke mulutnya. Lalu malam tiba-tiba seperti tersentuh oleh jemari monster es. Dingin. Suasana yang dingin. Beku. Beberapa centimeter di antara kita yang beku.
Aku tak menghabiskan sepiring ketoprak yang kami pesan tadi. Begitu juga dia. Mungkin sesudah kami pergi, pedagang ketoprak itu akan bertanya-tanya, ada ada dengan ketoprak buatannya, sehingga orang tak mau menghabiskannya. Terlalu pedaskah? Terlalu banyak kuahnyakah? Bukan, bukan ketopraknya yang harus dia tanyakan, tapi sesuatu dalam hati kami. Jika benar-benar pedagang ketoprak itu bertanya apa yang sesungguhnya ada di dalam hati kami, akupun tak yakin benar-benar bisa menjawab pertanyaannya.

Malam itu kuantarkan dia sampai di pemberhentian angkot yang menuju rumahnya. Tak seperti biasanya, tak kuantarkan dia sampai di depan rumahnya. Hanya sebuah “Hati-hati di jalan.” lirih yang hampir tak terdengar yang mengantarkannya, dan dia tak menolak. Untuk pertama kalinya kulihat dia tak manja.

Ketoprak malam itu seperti sebuah tanda bahwa kita tak akan saling menghubungi lagi. Aku tak menghubunginya, dan dia tak coba menghubungiku pula. Kamipun tak pernah mencoba tahu apa sebabnya. Diam-diam saling coba melupakan. Rupanya jari-jari monster es tadi tak cuma menyentuh malam itu, tapi juga hari-hari kita berikutnya.

3.

Waktu seperti sebuah laut luas dengan badai sekaligus ombaknya. Aku adalah nelayan yang hanya bermodal dayung kecil, penerangan redup, dan sedikit bekal. Sendirian. Aku arungi luas laut itu sendirian.

Sedari tadi aku cuma memindah-mindah channel televisi. Tak ada acara yang benar-benar bagus. Hanya beberapa sinetron yang membodohi, dan berita-berita rekayasa yang membosanku. Aku rasa manusia purba pun akan bosan menontonnya.

Tiba-tiba saja perutku terasa lapar sekali, seperti seorang musafir yang telah berhari-hari tersesat di padang pasir, tanpa menemui makan ataupun minum.

“Tek… Tek… Tek… ” entah keajaiban atau kebetulan, tapi aku lebih percaya bahwa ini adalah mukjizat. Di saat aku benar-benar lapar, tiba-tiba muncul seorang penjual makanan yang lewat depan rumahku.

Aku tak tahu itu suara penjual makanan apa, tapi aku langsung beranjak dari depan televisi lalu keluar mencarinya. Buru-buru kupanggil.

“Bang, beli, bang.. ”

teriakku, pada gerobak yang sudah mencapai beberapa meter menjauh dari rumahku.

“Jualan apa itu bang?”

“Ketoprak.”

Aku seperti mendengar suatu kata yang maha dahsyat. Kata yang ingin kulupakan sekaligus teringat. Tiba-tiba di laut itu aku merasa, kesepian dan rindu yang entah milik siapa menjelma menjadi seekor naga laut yang ganas. Yang siap melahap apa saja yang ada di depannya. Lalu naga laut itu menemukan si nelayan malang. Tak bisa dielakkan lagi, naga laut menelan nelayan itu. Bulat-bulat.

Sebuah Pesan Facebook

“Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa, menangis, merenung oleh cinta.”

Aku sudah membunuhmu lalu menguburkanmu dalam liang paling dalam sejak dua tahun lalu, tapi sekarang kau hidup kembali, hidup kembali lewat sebuah pesan facebook yang kau kirimkan padaku beberapa hari lalu.

“Hey, apa kabarmu? Sekarang kerja dimana? Aku baru saja melahirkan anak pertamaku. Aku minta nomor telponmu dong. Aku kangen ngobrol sama kamu.”

Itu adalah kalimat yang kau kirimkan padaku, tanpa rasa bersalah atau dosa.

Kau harusnya sadar, aku adalah lelaki yang amat (dan masih) mencintaimu. Butuh berbulan untuk benar-benar sadar bahwa kau bukan milikku, setelah kita putus dulu. Butuh banyak waktu untuk melupakanmu. Kau harusnya tak boleh menyapa aku lagi. Sekarang kau tahu apa yang kurasakan? Aku seperti sedang disiksa habis-habisan, disuruh menikmati rasa sakit, tak boleh hidup, juga tak boleh mati.

***

Butuh waktu dua jam untuk memutuskan apakah aku harus memberikan nomor handphoneku padamu atau tidak. Apa yang kudapat jika aku berikan nomorku? Pasti hanya rasa sakit karena dihajar habis-habisan oleh kenangan, atau duniaku akan rusak sementara karena kau telah masuk ke dalamnya.

Jika kuberikan nomor handphoneku, kau pasti akan menelponku, lalu hanya dengan sebuah suaramu maka segala peristiwa yang kita lalui bersama akan berjalan di kepalaku. Kemudian ceritamu yang makin panjang makin menjadi garam untuk luka-lukaku, dan kau pasti tidak akan menyadarinya.

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. Hubungan selama itu, bukanlah sekedar sebuah telpon di pagi hari atau kencan yang gagal di malam Minggu. Terlalu banyak yang harus dituliskan. Terlalu jauh hubungan yang sudah kita jalani.

Mungkin kita tak akan pernah pacaran jika kita tak sedang berdiri bersebelahan di sebuah busway waktu itu. Tangan bergelantungan di atas, sementara tubuh saling mendesak, memperebutkan ruang. Sebuah senyuman, kemudian basa-basi kecil, lalu sebuah obrolan ringan untuk membunuh bosan sebelum sampai tempat kerjaan. Sebenarnya aku tak terlalu memperdulikan pertemuan pertama kita waktu itu, tapi kemudian entah kebetulan atau memang sudah rencana Tuhan, kita bertemu kedua kali di tempat yang sama, dan waktu hampir sama pula, waktu itu kita mendapat sebuah bangku kosong. Keberuntungan pagi. Setelah ngobrol kesana-kemari, tiba-tiba kita menemukan semacam chemistry.

Kitapun saling bertukar nomor handphone. Bermula dengan SMS basa-basi, saling mengingatkan untuk makan, atau membangunkan tidur dengan sebuah SMS mesra, lalu menelpon dengan waktu agak lama. Akhirnya rasa memang tak bisa dibohongi. Layaknya sebuah cerita roman, kitapun akhirnya pacaran. Resmi sebagai sepasang kekasih.

Kita saling mengisi kekosongan, saling menguatkan satu sama lain. Aku mengisi kekuranganmu, kau melengkapi ketidaksempurnaanku. Apalagi sebagai sesama perantau di ibukota yang notabene bukan kampung halaman sendiri, kita saling menopang. Bukan hanya dalam hal cinta, tapi juga masalah ekonomi. Seorang perantau yang jauh dari keluarga dan hanya sebagai karyawan sebuah perusahaan kecil, harus pandai-pandai membelanjakan uang.

Kenapa dulu aku begitu nyaman menjalani hubungan denganmu? Karena aku telah merasa cocok denganmu, kebanyakan selera kita sama, hobi kita sama, bahkan cara kita memandang hidup juga sama. Satu yang pasti, aku mencintaimu, dan hatiku bilang bahwa kau nantinya harus jadi seorang ibu untuk anak-anakku. Aku serius menjalani hubungan denganmu.

Tapi, dari sekian alasan tadi, ada beberapa yang membuat kita agak berbeda. Setiap hari aku selalu sholat lima waktu, menyembah Tuhanku. Jika lupa kau tak jarang mengingatkan, sementara kau setiap hari Minggu, membawa Alkitab menuju gerejamu. Melantunkan puji-pujian untuk Bapamu. Ya, kita memang berbeda keyakinan. Tapi itu bukan menjadi penghalang. Kita tak pernah mempermasalahkan hal itu, toh banyak pasangan yang berbeda keyakinan tetap bisa bersatu, menjalani hubungan hingga menjadi sebuah keluarga. Kitapun sepakat untuk tetap menjalani cinta ini, tanpa perlu ada yang berpindah keyakinan.

Ya, cinta memang buta. Agama diciptakan bukan untuk menghancurkan cinta bukan? Dan tentang cinta kita, Tuhanku dan Tuhanmu pasti setuju.

Semua baik-baik saja sampai orang tuamu tahu bahwa kau berpacaran dengan orang yang berbeda agama. Waktu itu kau pulang kampung, kau bercerita pada orang tuamu bahwa kau telah memiliki seorang kekasih. Mulanya mereka biasa saja, tapi kemudian agak kecewa ketika kau bilang bahwa kekasihmu adalah seorang muslim. Orang tuamu menasehatimu, menyuruhmu agar melepaskanku dan mencari kekasih lain yang seiman. Apalagi orang tuamu adalah tokoh agama di kampungmu. “Apa kata keluarga dan teman-teman ayah jika anak seorang pendeta memiliki suami muslim.” begitu kau pernah menirukan kata-kata ayahmu. Kau mengangguk, kau setuju.

Ketika kau kembali ke kota kau ceritakan semua yang dikatakan ayahmu. Kau bilang kau tak mau mengecewakannya.Kau putuskan untuk tak melanjutkan lagi hubungan kita. Kau tak ingin melawan orang tua, katamu. Aku mengerti perasaanmu, aku memahami pilihanmu. Kitapun berpisah hari itu.

Tapi itu tak berlangsung lama, karena sehari setelah kau bilang kau mau pergi dariku, esoknya pagi-pagi sekali kau ketuk pintu kamar kosku. Waktu itu aku masih setengah sadar. Ketika pintu kubuka, kau sudah berdiri mematung di depan pintu. Tanpa mengucapkan sepatah kata, kau langsung memelukku menangis di pelukku. Kau bilang kau tak bisa jauh dariku. Kau terlalu mencanduku. Kau tak bisa tinggal beberapa jengkal saja dari hatiku. Seharusnya kaupun tahu, apa yang kurasa melebihi apa yang kau rasakan.

Kita kembali seperti semula. Hubungan kita berjalan seperti sedia kala, apapun yang terjadi kita berjanji untuk tetap bertahan. Menutup mata dan telinga untuk suara-sura yang tak menyenangkan di luar sana. Tetap berjalan, meski banyak yang tak suka hubungan kita. Beberapa teman bilang, bahwa hubungan kita hanya sia-sia. Keluargamu tak menyetujui kau punya kekasih yang beda agama, keluargaku? sama saja.

Kadang aku bingung, kita sebagai pasangan yang menjalani hubungan ini merasa baik-baik saja, tapi kenapa mereka, orang yang tak terlibat, begitu meributkannya?

***

Tak terasa, seiring berjalannya waktu hubungan kita sudah mencapai tahun keempat, kitapun makin dewasa. Seperti layaknya sepasang kekasih lainnya, kita ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius, pernikahan. Kita tahu, keluarga kita pasti tak akan merestui hubungan kita, keluarga kita sama kolotnya, tapi bagaimanapun juga kita harus mencoba.

Aku beranikan diri untuk memohon restu orang tuaku, kau juga mencoba melunakkan hati orang tuamu. Kita bicara bicarakan hal ini pelan-pelan, dari hati ke hati. Dan tahukah kau bagaimana hasilnya? Orang tuaku awalnya agak keberatan ketika kumintai restu untuk meminangmu menjadi istriku, tapi setelah kujelaskan secara pelan-pelan baru dia mengikhlaskan. Mereka sadar, aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri. Aku sudah tahu, apa resiko yang aku dapat jika mengambil keputusan seperti itu. Tentang keluargaku, tentang anak-anak kita kelak. Aku sudah memikirkannya. Akhirnya orang tuaku menyerahkan semua keputusan itu padaku. Aku sangat bahagia. Kau harus segera diberi tahu.

Lalu bagaimana denganmu? Apakah orang tuamu juga setuju? Ternyata kau mendapat sambutan yang sungguh-sungguh tak bisa dibilang menyenangkan. Orang tuamu tetap pada pendirian awal, tak bergoyah sedikitpun. Mereka tak merestui hubungan kita. Bahkan jika kau benar-benar menikah denganku, ayahmu yang pendeta itu tak segan-segan mengusirmu dari rumahnya, dan tak akan menganggapmu lagi sebagai anaknya. Sakit. Sesak. Jantung seperti dipenuhi pecahan kaca.

Setelah kejadian itu, kita saling merenung, mengasingkan diri untuk beberapa hari. Berpikir jernih, bagaimana harusnya kelanjutan hubungan kita ini. Apakah terus berjalan atau harus berhenti disini.

Setelah mengasingkan diri selama beberapa hari, dan shalat istiqarah, aku akhirnya menemukan jawabannya. Aku harus segera menemuimu dan memberikan keputusanku.

Malam itu aku menuju tempat kosmu. Kuketuk pintu. Agak lama kau membukakan pintu. Saat muncul, kau menyambut dengan muka tanpa ekspresi.

“Duduk” katamu.

“Bagaimana keadaanmu?’

“Baik” jawabmu datar.

Berat rasanya ingin menceritakan ini, tapi aku harus kukatakan juga. Sekaranglah waktunya, tak boleh ditunda-tunda. Kutarik napas dalam-dalam.

“Sayang, kau tahu kan, sesuatu yang dipaksakan itu nantinya hasilnya takkan baik. Cinta itu memang buta, tapi bukankah kita juga harus memakai logika. Harus melihat sekitar kita, baik atau buruk nanti hasilnya. Jika akhirnya nanti kita menikah, hubungan kita bukan hanya melibatkan kita berdua, tapi juga orang tua, keluarga, dan saudara-saudara. Tentu kau tak ingin bahagia, sementara di sekitar kita banyak yang terluka. Kau setuju dengan aku kan?” kataku. Kau mengangguk.

“Jadi, kuputuskan bahwa hubungan kita berakhir sampai disini saja.”

Kau diam tanpa ekspresi. Mungkin kau sudah bingung mau bagaimana mengekspresikan luka ini. Rasanya tak ingin aku membuatmu sesakit ini, tapi kenyataan memang begitu.

“Kita harus berbesar hati. Kenyataannya nanti ke depannya bakal susah menjalani pernikahan beda agama seperti ini. Kenangan memang tak bisa dilupakan, tapi lupakan saja mimpi-mimpi kita tentang rencana membuat keluarga kecil kita.”

Setetes air matamu jatuh, kemudian dua, kini pipimu seperti sungai. Kupeluk kau untuk yang terakhir kalinya. Karena aku tahu esok tak akan ada lagi waktu buatmu. Aku memutuskan untuk pergi menjauh darimu, menjauh dari kota ini, karena hanya itu jalan satu-satunya, agar kita tak bisa saling mengingat dan bertemu lagi. Manisku, selamat tinggal.

***

Aku memandang kosong ke depan. Pikiranku hanyut oleh kenangan kita dulu. Apa jadinya bila kita bertemu lagi? Semua memang sudah berubah, kau sudah punya suami, kau sudah punya anak. Lalu apakah kau pikir perasaanku padamu juga sudah berubah? Perasaanku belum berubah. Benar, dulu aku yang memutuskan untuk meninggalkanmu, tapi ternyata malah aku sendiri yang tak bisa menghapusmu.

Tanganku yang dari tadi memegang handphone, baru saja aku mengirim nomor handphoneku lewat pesan facebookmu. Dan setelah selesai aku baru sadar, sebuah kebodohan baru saja aku lakukan.

Terinspirasi dari lagu Sheila on 7 – Kita.