Mari Berlayar Denganku

Hujan di luar seperti lukisan yang dibingkai jendela. Jatuh satu-persatu, ritmis ke kolong udara. Beberapa yang lain membuat bunyi-bunyian di atas atap. Semacam iring-iringan orkestra.

Dari dalam kamar, aku melesatkan pandangan keluar. Pohon jambu yang basah, langit abu-abu
dan titik-titik air yang sedang menari balet. Mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Tapi sebenarnya bukan itu yang kulihat. Yang nampak di depan mata adalah bayangan teramat jauh di ujung sana.

Hujan tiba-tiba menjadi sebuah teropong tembus pandang, meski terhalang oleh berbagai lekuk bumi, rumah, dan jajaran pohon, seakan-akan aku bisa melihatmu. Nyata. Dirimu menggumpal nyata di dalam mata.

Tapi ini adalah sebuah kesialan. Jika kau mau tahu, sebenarnya bukan itu yang kuinginkan saat ini. Aku tak ingin membiarkan bayangmu sibuk di depan mataku.

Kau mau tahu yang kumau? Aku ingin menembak bayanganmu yang di depan mataku itu dengan pistol, hingga mati. Menyeretnya, lalu menghanyutkannya ke sungai. Menjauhkan hatimu dari hatiku, sejauh fisik kita saat ini. Menyuntik kepalaku dengan cairan penghilang ingatan. Agar tak ada satu bytepun memory tentangmu yang tersisa di otak ini.

Semalam kita telah bicarakan tentang kemana kapal yang kita naiki ini akan berlayar. Hendak terus menuju pulau, atau kita karamkan disini saja.

Kita adalah budak dari sebuah kisah roman picisan. Berawal dari pertemuan dalam hutan maya, lalu percakapan yang tak ada habisnya. Kita lalui jalan setapak itu bersama-sama, beriringan, bergandengan tangan. Karena terlalu asik dan tak hati-hati, tanpa sadar kita berdua jatuh dalam sebuah jurang. Cinta. Kita tak bisa bangun, kecuali tenggelam atau terperosok dalam di dalamnya.

Kemudian kita putuskan untuk terus berlayar saja, berjanji untuk bersama-sama mengayuh, hingga Pulau Terakhir. Namun belum ada beberapa jam kita mendayung, sesuatu memanggilmu dari atas sana. Dari langit abu-abu. Sebuah janji yang dulu pernah kau pelihara, yang telah lama menghilang, tiba-tiba datang lagi. Memanggilmu lagi. Mengajakmu terbang lagi. Kau bingung, sesuatu dalam kepalamu berputar-putar seperti gasing, kau ingin terus berlayar denganku, tapi kau juga tak ingin membunuh dirimu dengan janjimu sendiri.

Kau belum bisa memutuskan hendak kemana kau akan berjalan, kecuali itu sungai-sungai dari mata mengalir deras menuju pipimu. Aku tak ingin berlayar sendirian, tapi aku juga tak bisa membiarkanmu larut dalam pusaran dilema. Aku tahu tubuhmu cuma satu, tak bisa membagi wujudmu menjadi beberapa bagian dalam waktu yang sama, maka aku putuskan untuk menyuruhmu pulang saja. Menyelamatkanmu dari janjimu sendiri. Aku lebih memilih jalan luka lebih awal, daripada, nyeri di penutupnya.

Aku putuskan untuk berjalan sendiri. Meski sepi, aku telan ia bulat-bulat sebagai makan malam hari ini. Lalu satu-persatu di antara kita saling membelakangi. Menjarakkan diri. Tujuan utama hari ini dan esok hari adalah membersihkan kandungan dirimu dari dalam tubuhku. Pergilah, aku rahmati engkau malam ini.

***

Jam-jam mengajak bercakap dalam bahasa bayangan.

Entah kenapa aku seperti sedang bermain boomerang. Aku melemparkan cinta itu ke depan tapi dia kemudian berbalik, kembali lagi padaku. Aku sudah berusaha untuk mengacuhkanmu, memberi jarak paling jauh antara kepalaku dan bayanganmu, tapi semakin kuacuhkan, seakan aku makin dipaksa memasukkan tubuhmu bulat-bulat ke dalam kepalaku.

Malam itu aku tak merasa mendapat ilham dari siapapun, tapi entahlah, tiba-tiba seperti ada yang menuntun kakiku untuk melangkah ke hutan maya, berjalan, menikung, lalu singgah dalam rumah facebookmu.

Menepi aku disana, wajah dalam profilmu itu seakan-akan hidup. Dia tersenyum, matanya mencari mataku, lalu menangkapnya. Tanganmu seakan-akan keluar pula dari layar itu. Mendekat padaku, menyentuh pipiku. Membelai malamku.

Hatiku menjadi jajaran perkusi yang sedang ditabuh bersama-sama. Ramai, ribut dalam sini. Kekacauan dalam dada.

Ah. Aku terlalu hanyut. Buru-buru aku menyadarkan diri.

Aku seperti sedang diperebutkan oleh diriku sendiri yang lain. Satu diriku ingin menjadi jarak terjauhmu, sedang satu yang lain berusaha untuk menjadi angka nol jarakmu.

Kemudian aku mencoba melihat apa yang sebenarnya ada di dalam hati. Kubuka, dan kutengok, disana masih ada sekuntum rindu dan sekotak cinta untukmu yang belum tersampaikan. Aku tahu apa yang harus kulakukan, memberikan hak yang harusnya kau miliki itu padamu lagi. Aku harus kembali kepadamu. Malam ini.

Kuambil handphone yang tergeletak di meja. Mencari namamu dalam phone book, lalu dengan gemetar menekan tombol “panggil”. Menunggu suaramu muncul.

“Halo.” sebutir salju jatuh di hatiku.

“Halo. Ini aku. Aku berubah pikiran. Aku hanya ingin bilang; maukah kau kembali berlayar denganku?”

Iklan

Sebuah Pesan Facebook

“Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa, menangis, merenung oleh cinta.”

Aku sudah membunuhmu lalu menguburkanmu dalam liang paling dalam sejak dua tahun lalu, tapi sekarang kau hidup kembali, hidup kembali lewat sebuah pesan facebook yang kau kirimkan padaku beberapa hari lalu.

“Hey, apa kabarmu? Sekarang kerja dimana? Aku baru saja melahirkan anak pertamaku. Aku minta nomor telponmu dong. Aku kangen ngobrol sama kamu.”

Itu adalah kalimat yang kau kirimkan padaku, tanpa rasa bersalah atau dosa.

Kau harusnya sadar, aku adalah lelaki yang amat (dan masih) mencintaimu. Butuh berbulan untuk benar-benar sadar bahwa kau bukan milikku, setelah kita putus dulu. Butuh banyak waktu untuk melupakanmu. Kau harusnya tak boleh menyapa aku lagi. Sekarang kau tahu apa yang kurasakan? Aku seperti sedang disiksa habis-habisan, disuruh menikmati rasa sakit, tak boleh hidup, juga tak boleh mati.

***

Butuh waktu dua jam untuk memutuskan apakah aku harus memberikan nomor handphoneku padamu atau tidak. Apa yang kudapat jika aku berikan nomorku? Pasti hanya rasa sakit karena dihajar habis-habisan oleh kenangan, atau duniaku akan rusak sementara karena kau telah masuk ke dalamnya.

Jika kuberikan nomor handphoneku, kau pasti akan menelponku, lalu hanya dengan sebuah suaramu maka segala peristiwa yang kita lalui bersama akan berjalan di kepalaku. Kemudian ceritamu yang makin panjang makin menjadi garam untuk luka-lukaku, dan kau pasti tidak akan menyadarinya.

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. Hubungan selama itu, bukanlah sekedar sebuah telpon di pagi hari atau kencan yang gagal di malam Minggu. Terlalu banyak yang harus dituliskan. Terlalu jauh hubungan yang sudah kita jalani.

Mungkin kita tak akan pernah pacaran jika kita tak sedang berdiri bersebelahan di sebuah busway waktu itu. Tangan bergelantungan di atas, sementara tubuh saling mendesak, memperebutkan ruang. Sebuah senyuman, kemudian basa-basi kecil, lalu sebuah obrolan ringan untuk membunuh bosan sebelum sampai tempat kerjaan. Sebenarnya aku tak terlalu memperdulikan pertemuan pertama kita waktu itu, tapi kemudian entah kebetulan atau memang sudah rencana Tuhan, kita bertemu kedua kali di tempat yang sama, dan waktu hampir sama pula, waktu itu kita mendapat sebuah bangku kosong. Keberuntungan pagi. Setelah ngobrol kesana-kemari, tiba-tiba kita menemukan semacam chemistry.

Kitapun saling bertukar nomor handphone. Bermula dengan SMS basa-basi, saling mengingatkan untuk makan, atau membangunkan tidur dengan sebuah SMS mesra, lalu menelpon dengan waktu agak lama. Akhirnya rasa memang tak bisa dibohongi. Layaknya sebuah cerita roman, kitapun akhirnya pacaran. Resmi sebagai sepasang kekasih.

Kita saling mengisi kekosongan, saling menguatkan satu sama lain. Aku mengisi kekuranganmu, kau melengkapi ketidaksempurnaanku. Apalagi sebagai sesama perantau di ibukota yang notabene bukan kampung halaman sendiri, kita saling menopang. Bukan hanya dalam hal cinta, tapi juga masalah ekonomi. Seorang perantau yang jauh dari keluarga dan hanya sebagai karyawan sebuah perusahaan kecil, harus pandai-pandai membelanjakan uang.

Kenapa dulu aku begitu nyaman menjalani hubungan denganmu? Karena aku telah merasa cocok denganmu, kebanyakan selera kita sama, hobi kita sama, bahkan cara kita memandang hidup juga sama. Satu yang pasti, aku mencintaimu, dan hatiku bilang bahwa kau nantinya harus jadi seorang ibu untuk anak-anakku. Aku serius menjalani hubungan denganmu.

Tapi, dari sekian alasan tadi, ada beberapa yang membuat kita agak berbeda. Setiap hari aku selalu sholat lima waktu, menyembah Tuhanku. Jika lupa kau tak jarang mengingatkan, sementara kau setiap hari Minggu, membawa Alkitab menuju gerejamu. Melantunkan puji-pujian untuk Bapamu. Ya, kita memang berbeda keyakinan. Tapi itu bukan menjadi penghalang. Kita tak pernah mempermasalahkan hal itu, toh banyak pasangan yang berbeda keyakinan tetap bisa bersatu, menjalani hubungan hingga menjadi sebuah keluarga. Kitapun sepakat untuk tetap menjalani cinta ini, tanpa perlu ada yang berpindah keyakinan.

Ya, cinta memang buta. Agama diciptakan bukan untuk menghancurkan cinta bukan? Dan tentang cinta kita, Tuhanku dan Tuhanmu pasti setuju.

Semua baik-baik saja sampai orang tuamu tahu bahwa kau berpacaran dengan orang yang berbeda agama. Waktu itu kau pulang kampung, kau bercerita pada orang tuamu bahwa kau telah memiliki seorang kekasih. Mulanya mereka biasa saja, tapi kemudian agak kecewa ketika kau bilang bahwa kekasihmu adalah seorang muslim. Orang tuamu menasehatimu, menyuruhmu agar melepaskanku dan mencari kekasih lain yang seiman. Apalagi orang tuamu adalah tokoh agama di kampungmu. “Apa kata keluarga dan teman-teman ayah jika anak seorang pendeta memiliki suami muslim.” begitu kau pernah menirukan kata-kata ayahmu. Kau mengangguk, kau setuju.

Ketika kau kembali ke kota kau ceritakan semua yang dikatakan ayahmu. Kau bilang kau tak mau mengecewakannya.Kau putuskan untuk tak melanjutkan lagi hubungan kita. Kau tak ingin melawan orang tua, katamu. Aku mengerti perasaanmu, aku memahami pilihanmu. Kitapun berpisah hari itu.

Tapi itu tak berlangsung lama, karena sehari setelah kau bilang kau mau pergi dariku, esoknya pagi-pagi sekali kau ketuk pintu kamar kosku. Waktu itu aku masih setengah sadar. Ketika pintu kubuka, kau sudah berdiri mematung di depan pintu. Tanpa mengucapkan sepatah kata, kau langsung memelukku menangis di pelukku. Kau bilang kau tak bisa jauh dariku. Kau terlalu mencanduku. Kau tak bisa tinggal beberapa jengkal saja dari hatiku. Seharusnya kaupun tahu, apa yang kurasa melebihi apa yang kau rasakan.

Kita kembali seperti semula. Hubungan kita berjalan seperti sedia kala, apapun yang terjadi kita berjanji untuk tetap bertahan. Menutup mata dan telinga untuk suara-sura yang tak menyenangkan di luar sana. Tetap berjalan, meski banyak yang tak suka hubungan kita. Beberapa teman bilang, bahwa hubungan kita hanya sia-sia. Keluargamu tak menyetujui kau punya kekasih yang beda agama, keluargaku? sama saja.

Kadang aku bingung, kita sebagai pasangan yang menjalani hubungan ini merasa baik-baik saja, tapi kenapa mereka, orang yang tak terlibat, begitu meributkannya?

***

Tak terasa, seiring berjalannya waktu hubungan kita sudah mencapai tahun keempat, kitapun makin dewasa. Seperti layaknya sepasang kekasih lainnya, kita ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius, pernikahan. Kita tahu, keluarga kita pasti tak akan merestui hubungan kita, keluarga kita sama kolotnya, tapi bagaimanapun juga kita harus mencoba.

Aku beranikan diri untuk memohon restu orang tuaku, kau juga mencoba melunakkan hati orang tuamu. Kita bicara bicarakan hal ini pelan-pelan, dari hati ke hati. Dan tahukah kau bagaimana hasilnya? Orang tuaku awalnya agak keberatan ketika kumintai restu untuk meminangmu menjadi istriku, tapi setelah kujelaskan secara pelan-pelan baru dia mengikhlaskan. Mereka sadar, aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri. Aku sudah tahu, apa resiko yang aku dapat jika mengambil keputusan seperti itu. Tentang keluargaku, tentang anak-anak kita kelak. Aku sudah memikirkannya. Akhirnya orang tuaku menyerahkan semua keputusan itu padaku. Aku sangat bahagia. Kau harus segera diberi tahu.

Lalu bagaimana denganmu? Apakah orang tuamu juga setuju? Ternyata kau mendapat sambutan yang sungguh-sungguh tak bisa dibilang menyenangkan. Orang tuamu tetap pada pendirian awal, tak bergoyah sedikitpun. Mereka tak merestui hubungan kita. Bahkan jika kau benar-benar menikah denganku, ayahmu yang pendeta itu tak segan-segan mengusirmu dari rumahnya, dan tak akan menganggapmu lagi sebagai anaknya. Sakit. Sesak. Jantung seperti dipenuhi pecahan kaca.

Setelah kejadian itu, kita saling merenung, mengasingkan diri untuk beberapa hari. Berpikir jernih, bagaimana harusnya kelanjutan hubungan kita ini. Apakah terus berjalan atau harus berhenti disini.

Setelah mengasingkan diri selama beberapa hari, dan shalat istiqarah, aku akhirnya menemukan jawabannya. Aku harus segera menemuimu dan memberikan keputusanku.

Malam itu aku menuju tempat kosmu. Kuketuk pintu. Agak lama kau membukakan pintu. Saat muncul, kau menyambut dengan muka tanpa ekspresi.

“Duduk” katamu.

“Bagaimana keadaanmu?’

“Baik” jawabmu datar.

Berat rasanya ingin menceritakan ini, tapi aku harus kukatakan juga. Sekaranglah waktunya, tak boleh ditunda-tunda. Kutarik napas dalam-dalam.

“Sayang, kau tahu kan, sesuatu yang dipaksakan itu nantinya hasilnya takkan baik. Cinta itu memang buta, tapi bukankah kita juga harus memakai logika. Harus melihat sekitar kita, baik atau buruk nanti hasilnya. Jika akhirnya nanti kita menikah, hubungan kita bukan hanya melibatkan kita berdua, tapi juga orang tua, keluarga, dan saudara-saudara. Tentu kau tak ingin bahagia, sementara di sekitar kita banyak yang terluka. Kau setuju dengan aku kan?” kataku. Kau mengangguk.

“Jadi, kuputuskan bahwa hubungan kita berakhir sampai disini saja.”

Kau diam tanpa ekspresi. Mungkin kau sudah bingung mau bagaimana mengekspresikan luka ini. Rasanya tak ingin aku membuatmu sesakit ini, tapi kenyataan memang begitu.

“Kita harus berbesar hati. Kenyataannya nanti ke depannya bakal susah menjalani pernikahan beda agama seperti ini. Kenangan memang tak bisa dilupakan, tapi lupakan saja mimpi-mimpi kita tentang rencana membuat keluarga kecil kita.”

Setetes air matamu jatuh, kemudian dua, kini pipimu seperti sungai. Kupeluk kau untuk yang terakhir kalinya. Karena aku tahu esok tak akan ada lagi waktu buatmu. Aku memutuskan untuk pergi menjauh darimu, menjauh dari kota ini, karena hanya itu jalan satu-satunya, agar kita tak bisa saling mengingat dan bertemu lagi. Manisku, selamat tinggal.

***

Aku memandang kosong ke depan. Pikiranku hanyut oleh kenangan kita dulu. Apa jadinya bila kita bertemu lagi? Semua memang sudah berubah, kau sudah punya suami, kau sudah punya anak. Lalu apakah kau pikir perasaanku padamu juga sudah berubah? Perasaanku belum berubah. Benar, dulu aku yang memutuskan untuk meninggalkanmu, tapi ternyata malah aku sendiri yang tak bisa menghapusmu.

Tanganku yang dari tadi memegang handphone, baru saja aku mengirim nomor handphoneku lewat pesan facebookmu. Dan setelah selesai aku baru sadar, sebuah kebodohan baru saja aku lakukan.

Terinspirasi dari lagu Sheila on 7 – Kita.