Air Mancur Tepi Taman

Tak juga dipahami, mengapa ricik suara air mancur menuduh mata kolam sebagai pencuri rindunya yang hilang bertahun lalu. Tanpa alasan kecuali dugaan-dugaan yang kian mengeras seperti beton trotoar kota ini.

Mata kolam tak seperti cerobong asap yang mampu menampung bayang cahaya lampu taman ketika malam. Dia lebih mirip kaca-kaca mall yang dengan ceria memantulkan logam, atau pohon-pohon yang tak sengaja maupun sengaja memandangnya.

“tapi bukankah rindu itu milik siapa saja yang sempat duduk di tepi kolam ini?”
Kata daun trembesi yang sebentar lagi jatuh
dan bersama bayangnya berebutan menyentuh tepian permukaan kolam.

Di taman ini kesunyian pernah mencium mereka, hingga mereka terlelap terlalu panjang.
Hingga jam dan rumah terurai menjadi humus.

Senja menaburkan cahaya perak ke setiap jengkal taman ini,
(meski orang-orag masih saja mempercayainya sebagai hujan)
ada yang jatuh bersamanya
“darimana datangnya rindu yang berkilau ibarat tubuh bidadari ini?”

Setiap yang tertidur mendadak membuka matanya.

Dari Balik Kaca Jendela Kereta

Dari ballik kaca jendela kereta kita saksikan kota, penghuni dan segala drama yang ada di dalamnya berjalan melawan arah. Menyimpang menjauh. Seakan semakin kita dekati, semakin mereka tak ingin lagi dikenali.

Kemana kita menuju? Ke dalam mimpi besar sepasang anak muda yang sedang jatuh cinta. Dimana cinta terlalu mudah untuk dimaknai, dimana tak perlu mereka pikirkan bagaimana caranya sepasang suami istri harus melawan dunia tanpa berusaha untuk saling melepaskan diri.

Pundakku adalah tempat yang amat luas. Tempat yang amat terbuka untukmu menyandarkan hidup. Membagi episode hitam putih, abu-abu.

Ceritakan, ceritakan semua layaknya hujan pada musimnya. Aku siap menjadi hutan. Hutan yang menampung segala hujan.

Kereta ekonomi. Bangku-bangku oranye kosong. Coretan-coretan nakal spidol anak sekolah. Lantai yang tak selalu bersih. Pedagang asongan mondar-mandir. Suara rel beradu dengan roda kereta. Selebihnya kau semakin dalam terbenam dalam pelukan.

Betapa puitisnya pohon-pohon dan rumah kumuh yang terlihat dari balik kaca jendela itu. Langit susu, lapangan bola yang becek, jalan-jalan berlubang. Mereka seperti berkolaborasi membaca puisi untuk kita. Hanya untuk kita.

Saat ini kau hanya harus percaya bahwa aku adalah orang yang akan selalu bersamamu menuju tahun-tahun di depan. Kau percaya bahwa Hawa diciptakan untuk Adam, lalu kau menatap wajahku. Sebuah gundu berpijar kutemukan di matamu. Hari itu tidak ada gerimis, tapi aku tak akan pernah melupakannya.

**

Layaknya kutipan-kutipan dalam buku motivasi. Bukankah kita harus terus berjalan menggandeng hidup hingga dia tak menginginkan kita lagi. Meski jalan tak lagi terasa lebar, meski harus berjalan tanpa seorang teman.

Berapa kali aku harus ke pemakaman untuk meyakinkan bahwa kau telah benar-benar mati dalam hati ini. Berapa kali aku harus berpakaian hitam-hitam, mengingat sekaligus melupakan kisah-kisah, pura-pura berdoa agar kau baik-baik saja. Lalu menaburkan bunga-bunga.

“Meski seseorang itu hidup, tapi jika dia tak ada di sisi kita, bukankah sama saja dia telah mati.” Kata seorang teman suatu hari. Entah kenapa aku begitu mengamini kata-kata tersebut.

Selalu. Selalu aku nikmati kolaborasi pembacaan puisi pohon-pohon dan rumah-rumah dari balik kaca jendela itu. Lalu setiap kereta dari lawan arah melintas, melesat mengikuti angin, aku selalu percaya bahwa salah satu penumpangnya adalah kau. Kau yang bermata gundu pijar. Kau yang menatap wajahku. Kau yang rebah di pundakku sambil berkata,
“cinta kita hanya sebuah lelucon hidup, honey.”

Ciputat 6 Mei 12