Kau Benci Hujan

Kau benci hujan. Kau benci hujan karena dia tak punya jam tangan, dia tak kenal waktu. Dia tak pernah memberitahumu kapan dia akan datang, sehingga barangkali saja kau punya waktu untuk bersiap-siap dulu sebelum dia datang. Menyiapkan payung mungkin? memakai jas hujan dulu mungkin? atau mencari tempat yang nyaman untuk berteduh. Hingga pernah suatu kali ketika kau pulang kerja, kau terjebak di antara derasnya. Kau tak membawa payung, kau tak sedang berada di tempat yang nyaman, rumahmu masih jauh. Kau berteduh di halte yang penuh dengan orang-orang payah. Bajumu basah kuyup, kulitmu yang putih menempel dengan bajumu yang putih pula. Rambutmu yang biasanya indah tergerai bagai air terjun kini berantakan. Pertama hujan menjebakmu, memenjarakanmu, lalu dia membuat waktumu hanyut terbuang begitu saja (barangkali hanyut terbawa hingga ke laut).

Kau benci hujan. Terutama hujan yang deras dan lama. Karena hujan yang deras dan lama akan segera menimbulkan banjir di kotamu. Tak butuh tiga hari atau satu minggu untuk menenggelamkan kota. Hanya beberapa jam saja, hujan yang sederas air terjun dan semua orang tahu bahwa kotamu akan segera menjadi  mirip kota Venesia. Sungai-sungai dengan arus yang lumayan deras akan mengelilingi setiap dinding rumah penduduk. Menerobos celah-celah pintu, atau tembok yang rapuh. Menelan habis kaki-kaki kursi ruang tamu, menggenangi kamar tidur, merendam kulkas dan koleksi buku dan kaset. Televisi dan komputer harus segera diselamatkan. Jika kurang beruntung (pastinya), maka air itu akan menenggelamkan jalanan seperti laut. Mobil-mobil tak bisa berjalan, sepeda motor  terendam di tengah jalan. Orang-orang mengungsi di barak-barak bawah jembatan, atau di alun-alun kota, sedang anak-anak kecil dengan gembiranya berenang di kolam dadakan itu. Keesokan harinya badan mereka akan gatal-gatal dan diserang penyakit kulit. Kau tak pernah tega melihat orang-orang itu menderita. Kau tak ingin kesedihan itu datang lagi, kau tak ingin hujan itu datang lagi.

Sebenarnya kau masih ragu siapa yang harusnya kau benci, tapi hal yang paling masuk akal adalah memebenci hujan.

Kau benci hujan. Karena suara berisik yang ditimbulkannya saat beradu dengan atap rumahmu. Membuatmu tak pernah bisa tidur ketika malam-malam sendirian. Membuat malam menjadi tiga kali terasa lebih sepi dari malam-malam biasanya. Bahkan kau masih percaya cerita kakekmu, bahwa ketika hujan datang malam-malam, maka pasti diikuti dengan kedatangan makhluk ghaib. Pikiran itu membuatmu takut tak karuan, membuatmu gelisah sepanjang malam. Membuat tidur terlalu larut, dan bangun kesiangan.

Kau benci hujan. Kau benci hujan, karena kau benci perpisahan. Dalam kesimpulanmu, delapan dari sepuluh film drama yang kau tonton selalu menyertakan adegan hujan. Seorang wanita dan seorang pria berjalan beriringan, namun di tengah jalan, tiba-tiba hujan datang. Mereka memutuskan  menembus hujan tanpa pelindung apapun, tanpa mau berteduh meski hujan hampir membuatnya tak bisa melihat apapun. Pada adegan lain, si pria menyelamatkan si wanita yang sedang berjalan sendirian di tengah hujan dengan memberinya tumpangan pada sadel belakang sepeda kumbangnya. Yang paling sering kau lihat adalah adegan satu payung untuk berdua. Si pria dan si wanita terlihat begitu bahagia, meski seluruh tubuhnya basah kuyup seperti botol yang baru saja diambil dari kulkas. Adegan itu akan berlanjut ke hubungan mereka yang lebih intim, namun kau juga sudah hapal, bahwa pada akhirnya si pria dan si wanita nantinya akan bertengkar di tengah hujan yang tiba-tiba datang, meski awalnya cuaca terlihat cukup cerah. Pertengkaran yang begitu hebat, hingga salah satu di antara mereka akan pergi meninggalkan kekasih atau mantan kekasihnya sendirian. Menangis, berlutut di tengah hujan yang deras. Seakan menyesal dan tak rela jika ditinggalkan kekasihnya begitu saja. Seolah-olah kiamat tinggal tiga puluh detik lagi. Kau sudah berkal-kali melihat adegan seperti itu, tapi setiap melihatnya selalu saja adegan itu membuatmu berkaca-kaca. ‘Dasar picisan’ omelmu entah pada siapa. Bahu tanganmu mengusap sesuatu yang mengalir dari matamu.

Kau benci hujan, karena hujan selalu mengingatkanmu pada beberapa pelukan, dan beberapa ciuman yang tak tuntas pada suatu malam yang ganjil di bulan Januari. Itu sudah lama sekali, tapi ketika hujan yang lain datang lagi, kau masih bisa merasakan hangat tubuh yang memelukmu ketika itu, desir darah yang mengalir seperti sungai di dadanya, detak jantung yang bersahutan seperti rentetan tembakan, dan bibir tipisnya yang sedikit liar. Sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Sesuatu yang lalu tumbuh berkembang seperti jamur. Sesuatu yang membuatmu begitu mencintai. Setelah bertahun-tahun, setelah semua tak sepeti dulu lagi, kau berusaha memendamnya, melupakannya, namun tiap kali hujan datang, usahamu akan sia-sia. Begitu terus, hingga kau menyerah.

Kau benci hujan. Kau benci hujan karena kau pikir hujan terlalu mencintaiku.

Lebih. Lebih mencintaiku daripada dirimu.

21 May 2013

Ketika Kau Sakit

sehari sakit, mengingatkan seribu hari sehat yang tak disyukuri.

 

Minggu lalu kau sakit. Tiga hari tak masuk kerja. Badanmu demam, malangnya lagi demam itu tak mau buru-buru pergi dari tubuhmu. Ia seperti mendapati tubuhmu sebagai tempat yang nyaman untuk bersarang. Kau  ingat saat itu tubuhmu seperti beban buat dirimu sendiri. Membawa tubuhmu untuk berjalan saja rasanya seperti membawa puluhan orang di atas pundakmu. Berkali-kali kau memuntahkan apapun makanan yang telah kau makan, apalagi obat yang kau minum. Bau obat amat merangsang penciumanmu. Sangat sensitif, hingga kau tak mampu melawannya.

Perutmu selalu terasa mual. Tak ada satupun makanan yang bisa membangkitkan gairah makan orang sakit. Kau tak berani memikirkan hal-hal yang terlalu berat, takut itu akan menambah rasa sakitmu. Sebab sehari sebelumnya kau bermimpi tugas-tugas di kantor itu telah menjadi monster yang memakan habis hari-harimu. Kau tak ingin memikirkan apapun, tapi semakin tak kau pikirkan, semakin mereka berkeliaran di kepala. Kau tahu, kau tak mengundangnya, tapi mereka seperti capung-capung yang berterbangan di musim kemarau. Berputar-putar, berpusing-pusing di kepalamu. Bahkan kau yang biasanya kutu buku, yang tak mau membiarkan waktu luangmu hilang kecuali dengan buku, tak juga mau menyentuh buku. Kau takut konflik-konflik dalam novel yang kau baca malah akan menambah rasa sakitmu. Menonton televisipun tidak, karena cahaya televisi hanya akan membuat kepalamu seperti dijejali benda-benda asing yang siap meledak. Ini gila! Pikirmu.

Kau hanya bisa berbaring sendirian di kasur yang digelar di lantai. Sebuah bantal, sebuah guling, sebuah selimut. Tak ada orang tua, tak ada saudara, tak ada kekasih yang mengurusmu. Mereka jauh. Mereka semua jauh, jauh fisik, jauh hati. Ah tapi tidak dengan ibu. Tadi pagi dia telpon, menanyakan kabarmu. Mengkhawatirkanmu. Menyuruhmu meminum obat dan jangan memuntahkannya lagi, tapi kau gagal. Di saat-saat seperti itu betapa kau sangat rindu ibumu. Rindu ketika dia membuatkanmu teh manis dan menyediakan roti ketika kau sakit. Rindu ketika dia memijit kakimu yang sebenarnya tak berefek banyak pada sakitmu, tapi kau menyukainya. Ah, tapi yang harus kau hadapi sekarang adalah menyiapkan minum sendiri, mencari makanan sendiri, melawan sakit itu sendiri.

Di saat seperti itu, tiba-tiba saja kau begitu merasa sendirin. Begitu merasa takut jika saja Dia Yang Mengendalikan Segala Sesuatu itu menghendakimu sekarang. Kau merasa masih begitu kotor, meski kau tak pernah yakin akan bersih. Kau ingat tentang orang-orang yang hari ini cuma sakit biasa-biasa saja, lalu besoknya meninggal hanya karena demam atau semacamnya. Mengerikan jika itu terjadi padaku, pikirmu. Lalu kau coba mengingat-ingat apa saja yang telah kamu lakukan, apa yang telah kamu capai hingga umurmu saat ini. Begitu jauh, begitu jauh dari mimpi.

Di saat-saat seperti ini kau merasa betapa sayangnya hari-hari sehat yang telah kau lalui dengan hal-hal percuma di masa lalu. Kau ingin memanggil mereka kembali. Di saat seperti ini kau merasa  sehari sakit adalah waktu yang digunakan manusia untuk menembus beberapa galaksi. Lama sekali. Kau begitu menyadari bahwa jika saat itu kau diangkat jadi rajapun kau tak akan bisa menikmatinya, karena sakit mementahkan segala kesenangan dunia. Bahkan kau sempat berpikir seandainya Tuhan menyuruhmu memilih umur seribu tahun tapi sakit, atau setengah hari tapi sehat, kau akan memilih yang terakhir.

Kau terpejam, mengingat hari-hari indah yang telah kau lalui, lalu menyerahkan semuanya kepada Yang Memberi Sehat dan Sakit.