Menggali Rahaisa

D

1.

Pernahkah kau paham, mengapa malam di kota ini lebih sering mengabarkan hawa dingin? Kau menunjuk pada angin yang melintas sekelebat seperti burung sriti itu. Sebelumnya dia  lewat di depanku, tiba-tiba kini dia merayu dedaunan, hingga kemudian terbang. Hanya punggungnya yang tegak terlihat melayang  langit.

Pohon-pohon kota menyimpan rahasianya di sudut utara taman ini. Mereka menimbunnya dengan tanah, lalu menutupinya dengan daun-daun kering. Aku pernah diberitahu moyangku, bahwa pohon-pohon suka bergerombol di taman, membicarakan sesuatu dengan bahasa mereka, lalu pada malam-malam tertentu mereka diam-diam membuka rahasia itu tanpa ada orang lain yang melihatnya. Dulu aku tak terlalu peduli. Hingga suatu malam, ketika aku pulang sendirian, sehabis melihat pembacaan puisi, setelah minum sampai sedikit pusing. Aku berjalan di jalan tepi taman ini. Tak sengaja, aku lihat pohon-pohon itu bergerombol, di antaranya ada yang menoleh ke kanan kiri, seperti takut kalau-kalau ada seseorang yang melihatnya. Aku bersembunyi di balik pagar sambil memperhatikan.  Aku melihat pohon yang paling besar di antara yang lain menggali tanah. Mencari sesuatu. Tak ada yang memperhatikan. Ketika yang digali telah ditemukan, seseorang dari mereka mengangkatnya. Aku tanpa alasan langsung percaya, sesuatu yang mereka angkat itu adalah rahasia mereka. Rahasia yang mereka simpan rapat-rapat. Rahasia itu memancarkan cahaya. Hingga wajah pohon-pohon itu terlihat berseri. Udara tak lagi dingin. Auranya memancar hingga ke tepi-tepi kota. Binatang-binatang mendadak hening. Bintang-bintang seperti hanya dua meter saja di atas kepala.

2.

Sekarang mari kutunjukan padamu mengapa udara malam di kota ini lebih sering mengabarkan hawa dingin. Mari kita menuju sudut utara taman ini. Sebelum malam mencapai puncaknya, sebelum pohon-pohon itu bangun. Di antara tumpukan daun kering itu, ada sesuatu yang sangat ingin kutunjukan padamu. Biarkan aku gali, kau duduk saja di sini. Hanya butuh sedikit tenaga lebih sebelum akhirnya kudapatkan rahasia itu. Sekarang kau tahu mengapa tiba-tiba malam tak lagi dingin di kota ini. Rahasia itu menciptakan keterpanaan tak henti-henti. Aku tersenyum, kau masih juga belum percaya.

Rahasia yang berpendar bagai matahari di malam hari itu, rahasia yang berhak menghangatkan malam-malam kota itu, rahasia yang amat kita kenali itu, rahasia itu.

Rahasia itu puisimu yang tak pernah kau sadari.

Iklan

Siklus Hujan

amla

Ada sabda yang sengaja terucap. Kata-kata yang menjadi kumpulan awan abu-abu. Tertiup angin utara. Sempat melewati pohon-pohon angsana berdebu. Rel kereta yang kokoh dan dingin. Sebagian lagi menjadi embun yang mengabut di jendela kaca kereta. Orang-orang memandang pemandangan di luar sambil menuliskan nama kekasihnya di kaca jendela kereta yang mengembun, berlama-lama memandangnya, berharap orang lain tak melihatnya, menertawakan hal tak lucu yang dibuatnya sendiri, sebelum kemudian menghapusnya.

Di atas rumahmu yang bergenteng merah bata. Di antara pohon-pohon mahoni yang berderet di sepanjang barat rumahmu. Seekor kelelawar menabrak pohon beringin. Sebentar lagi maghrib. Warna jingga di langit yang hampir habis. Kumpulan awan dari sabda akan mengejawantahkan takdirnya sebagai hujan. Di bawah langit yang memayungi kampung lembah. Di atas rumahmu. Gerimis lebih khusyuk dari segala yang hadir di maghrib itu. Bahkan sunyi yang telah begitu hapal seluk-beluk senja di sini.

Hujan telah menemukan pembaringan yang menyenangkan. Dia hinggap di ranting pohon mangga, meluncur pada lembar-lembar daun pisang yang digoda angin, bergoyang goyang seperti penyanyi dangdut, kemudian rebah di kerikil batu jalanan yang berlumut, sebelum akhirnya luruh, mengikuti arus kecil. Menuju sungai-sungai kecil. Menuju sawah dan waduk.

Engkau memandang langit-langit kamar. Mendengarkan ritmis kaki-kaki hujan yang menyentuh atap. Dingin menyergap dari sela-sela jendela setengah terbuka, di antaranya sesuatu yang magis seperti menggerayangi dinding-dinding kamar yang mulai mengelupas catnya. Di luar, kau lihat hujan menjadi begitu akrab dengan para penghuni kebun. Pohon kelapa, pohon jati, rumpun-rumpun bambu, siput pemalas, juga katak bangkong yang mulai keluar dari balik batu.

Tiba-tiba saja sesuatu muncul di antara sadar dan ketidaksadaranmu. Sesuatu yang tak terlalu kau pahami. Sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang setelah percakapan absurd satu jam di ruang kelas. Sesuatu yang membekas di jantungmu seperti sebuah penyakit yang selalu membuat berdebar. Sesuatu yang tak kau inginkan, tapi juga tak ingin kau lepaskan. Sesuatu yang ingin kau taburkan saja ke serbuk-serbuk hujan. Agar terbawa oleh air yang bijak, yang begerak mengikuti arus, menuju sungai, berjalan tak kenal lelah hingga jauh, hingga bermuara ke tubuh-tubuh laut. Agar nantinya ketika matahari bersinar begitu cerahnya, ia bisa menguapkannya kembali air dan rasa yang pernah kau taburkan di dalamnya, menampungnya di kampung langit, lalu membentuknya menjadi gumpalan awan. Gumpalan awan yang akan terbang ketika ditiup angin. Berputar-putar, menemukan tempat yang tepat untuk mendarat, hingga akhirnya jatuh di atas atap seseorang yang telah menciptakan rasa yang belum juga kau pahami. Seseorang yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk sekedar melintas di kepalamu. Seseorang yang kau pahami sebagai aku.