Pohon Nangka

Di halaman rumah ini. Ketika daun-daun nangka sempat gugur di pagi hari, di antara subuh dan terbitnya matahari. Kau akan setia membersihkannya. Mengambil sapu lidi yang keras dan pendek, yang selalu kau sandarkan di samping pintu dapur. Lalu bergegas dengan tubuh yang belum disentuh sarapan, kecuali harapan yang tak terlalu tinggi. Menyapu  daun-daun nangka coklat tua yang gugur. Mengumpulkannya hingga menjadi gundukan kecil daun kering. Memasukannya ke dalam tempat sampah dari anyaman bambu yang dibeli dari pasar tradisional beberapa bulan lalu. Dan seperti biasa, membuangnya di sebuah lubang buatan di kebun belakang rumah.

Angin baru saja bangun. Ditingkahi burung kutilang yang hinggap di pohon akasia, ia sibakkan rambutnya yang hitam dan panjang . Hingga menyentuh pucuk daun-daun jati. Daun jati yang menghalangi cahaya matahari yang hendak menelusup ujung-ujung bunga rumput. Daun jati yang kemudian jatuh ke halaman rumahmu juga, akhirnya.

Seseorang, ah bukan, banyak orang memintamu untuk menebang saja pohon nangka yang setia berdiri di halam rumahmu itu. Yang tak lagi berbuah. Yang hanya bisa menggugurkan daun kering. Mengotori halamanmu. Pohon yang bisa saja dengan mudah roboh dan menimpa atap rumahmu yang reyot ketika angin kencang menyerang. Atau bukan tak mungkin ketika hujan badai menghajar kampung, dan petir berlompatan, menyenggol pohon nangka tua itu, ia tak punya kekuatan lagi untuk berdiri, dan tubuh pohon nangka itu akan hancur berkeping-keping. Memporak-porandakan halamanmu. Mengacaukan rumahmu. Tapi engkau selalu mengabaikannya.

Orang-orang menyangka bahwa keenggananmu menebang pohon itu adalah karena pohon itu dihuni oleh semacam makhluk ghaib yang telah tinggal puluhan tahun sejak eyang buyutmu membangun rumah dan sehabis makan melempar begitu saja buah nangka ke halaman rumahnya. Buah nangka yang tak dikehendaki  itupun tumbuh, dari sebesar kecambah, lalu tumbuh menjadi pohon kecil, tumbuh terus hingga besar, hingga seperti sekarang ini. Lalu orang-orang kampung bercerita, sekeluarga jin menempati pohon itu, karena kerindangan dan keteduhannya. Beberapa yang lain mengaku mendengar suara-suara aneh dari pohon itu menjelang maghrib. Mereka pikir bahwa jika engkau menebang pohon itu, maka maka jin penghuninya akan marah, akan mengganggu seluruh sisa hidupmu, membuatmu jadi gila, bahkan tak segan-segan untuk memakan jiwamu. Dan setiap mendengar cerita seperti itu engkau hanya tersenyum, tak berniat menyangkal atau membenarkan. Menanggapi mereka dengan sendau gurau saja.

Di kampung ini segala sesuatu akan menjadi pembicaraan orang, tapi engkau lebih memilih tak peduli. Hanya engkau yang tahu alasan mengapa engkau tidak mau menebang pohon nangka itu. Alasan takut hantu itu terlalu dangkal menurutmu. Satu-satunya alasanmu menolak penebangan pohon itu hanyalah agar kau bisa bangun pagi sebelum seorang muadzin mengumandangkan adzannya, bersujud kepada Yang Memberi Hidup, mempersiapkan dapur, mengambil sapu lidi, menuju halaman rumah. Menikmati celoteh burung kutilang dan burung emprit yang hinggap di pohon akasia, yang terus berbicara dengan bahasa mereka. Membicarakan dengan teman-teman burungnya tentang makanan atau  petualangan apa yang akan mereka lalui hari ini. Memandang mereka hinggap di pohon trembesi, melompat mencari biji-bijian, lalu bertengger ke pohon nangka itu.

Kaupun akan mulai menyapu, mengumpulkan daun-daun kering pohon nangka. Mengamati batang  pohon nangka berwarna coklat tua dengan tekstur kasar, mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika senja kau dan aku duduk di bangku kayu di bawah pohon nangka itu. Mengamati awan-awan  berarak ke selatan, memandang telur raksasa warna jingga yang hampir tenggelam di barat cakrawala. Burung-burung sriti belesatan. Induk ayam menggiring anaknya ke kandang. Kau dan aku berbicara hal-hal yang telah kita lalui hari itu, merencanakan apa yang akan kita lakukan esok hari, hingga sendikala, hingga seakan-akan waktu membunuh dirinya sendiri.

Mengenang apa yang pernah terjadi antara kau dan aku di halaman rumah itu merupakan hal-hal paling membahagiakan dalam hidupmu. Kau hanya ingin begitu terus selamanya. Setiap pagi. Setiap hari. Di halaman rumah itu. Di bawah pohon nangka itu. Hingga mungkin aku kembali ada.

Kronologi

1)

Aku akan menelponmu sebelum engkau mengingat pelukan terakhir kita, hingga kau merasa hatimu seperti kesedihan yang mengalir bagai sungai setelah hujan turun. Menampar-nampar batu kali, memukul-mukul akar-akar bakau. Hingga kau merasa perlu menjadi seorang utusan tuhan yang mampu menghentikan arus, menidurkan gelombang bahkan memindah atau membakar hujan.

2)

Engkau mengambil handphone yang tergeletak di atas ranjang. Dari kepalamu lalu berlarian awan-awan berbentuk kelinci dan beruang. Cahaya bagai air terjun dan kita di bawahnya berjalan mirip adegan-adegan komik roman Jepang. Menuju rumah. Kita saling tuduh siapa di antara kita yang paling pertama mengucapkan Kalimat itu. Kau bersikukuh bahwa kaulah yang paling dulu, tapi akupun berani membawa nama tuhan sebagai pengawalku.

Hening  melintas di halaman rumah, dan senja tiba-tiba menjadi warna jeruk.

3)

Sebuah sinyal menggangu sinyal yang lainnya. Sesuatu ingin berbicara, sedang  sesuatu yang lainnya tak pernah  ingin mendengar,  dia merasa lebih berhak untuk berbicara. Komunikasi sederhana yang diperumit oleh  modernitas itupun  tak pernah terjadi. Rindu mengacaukan semuanya.

Begitu, begitu terus hingga sisipus yang mendorong batu ke bukit,  lalu menjatuhkannya lagi ke pantai   itu berhenti, kecuali suatu malam saat seseorang  merasa ingin memberi ruang untuk rindu yang lain masuk ke tubuhnya.

“Halo” suara kita saling sahut bersamaan.

Dunia tak lagi menerjemahkan dirinya dalam kata-kata.

Mendadak waktu mengekalkan adegan dan segala sesuatu.

Posted in ibu