Intermezo

Catatan Ombak

(i)

Kota kota di antara kau dan aku seperti jaring laba-laba yang menghubungkan perasaan-rindu-dan hal-hal yang tak sempat dan tak ingin kita jelaskan. Bulan demi bulan melarikan diri diam-diam, mengendap-endap, seperti pengecut.

(Kau masih memiliki senyuman paling indah, wajah yang penuh kebodohan, tempat aku ingin bersembunyi, sekaligus tempat engkau menyembunyikan kabut awal musim hujan.)

Malam itu dingin, lebih kekal dari rasa sepi. Aku masih sempat bertanya-tanya, adakah kau benar-benar di hadapanku, ataukah hanya hantu-hantu dari kematian nurani orang-orang di kotaku. Di luar bising kendaraan, aku masih sempat mendengar kau bilang “aku rindu padamu”.

Aku bilang, aku suka rambutmu yang panjang seperti air terjun,kau tertawa kecil dan menuangkan segelas air putih ke gelas kosongku.

“Sempatkah kau berkhayal menjadi awan-awan yang berarak ketika hari di antara subuh dan pagi?” tanyaku.

“belum”.

“Kenapa kau tak mencobanya? “

“memangnya kenapa?”

“Karena aku telah menjadi langit tempat kemanapun engkau berjalan.”

 

(ii)

Di convenience store, kita duduk di meja barisan kedua dari depan. Kau memesan dua gelas coklat panas. Kau bilang ini adalah minuman paling enak yang pernah kau jumpai di kota ini, meski menurutku minuman itu biasa-biasa saja.

Aku memandang malam yang luruh seperti salju dari balik kaca toko, kau memamerkan gigi putihmu yang berjajar rapi seperti pasukan militer Nazi. Kau pamerkan gambar tokoh kartun yang menempel di t-shirt birumu, kau bilang kau menyukainya. Dia, si tokoh kartun itu adalah makhluk bodoh tapi baik hati dan lucu, jika boleh kau ingin bertemu dan memeluknya selama beberapa jam.

Kau bilang, kau ingin diet, kau tak percaya diri dengan bentuk tubuhmu, padahal aku selalu menerimamu apa adanya. Aku bilang kamu cantik, tapi kau bilang aku berbohong. Ekspresi wajahmu lucu.

Dalam hati, aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku akan menyimpan adegan itu seumur hidupku, dan ingin menuliskan sebuah puisi untuk kejadian malam itu suatu saat nanti.

 

(iii)

 

Tidak ada yang benar-benar bisa menampung rahasia, bahkan langit yang menjadi gantungan mitos nenek moyang manusia itu. Dan sudah seperti seharusnya dunia akan menjadi kekacauan-kekacauan yang indah, layaknya puisi.

Permainan itu tak akan menyisakan siapa yang menang atau siapa yang kalah. Seseorang dari kita harus berbicara, dan yang  lain harus mendengarkan dan berkata “baiklah”.

(aku sempat melintas sesosok malaikat berkelebat, membawa kitab tebal yang halamannya berceceran)

Kota telah ditawan hujan sedari maghrib, sayup-sayup kudengar lagu dari sebuah band pop, entah mengapa tiba-tiba saja aku menjadi begitu benci padamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s