Air Mancur Tepi Taman

Tak juga dipahami, mengapa ricik suara air mancur menuduh mata kolam sebagai pencuri rindunya yang hilang bertahun lalu. Tanpa alasan kecuali dugaan-dugaan yang kian mengeras seperti beton trotoar kota ini.

Mata kolam tak seperti cerobong asap yang mampu menampung bayang cahaya lampu taman ketika malam. Dia lebih mirip kaca-kaca mall yang dengan ceria memantulkan logam, atau pohon-pohon yang tak sengaja maupun sengaja memandangnya.

“tapi bukankah rindu itu milik siapa saja yang sempat duduk di tepi kolam ini?”
Kata daun trembesi yang sebentar lagi jatuh
dan bersama bayangnya berebutan menyentuh tepian permukaan kolam.

Di taman ini kesunyian pernah mencium mereka, hingga mereka terlelap terlalu panjang.
Hingga jam dan rumah terurai menjadi humus.

Senja menaburkan cahaya perak ke setiap jengkal taman ini,
(meski orang-orag masih saja mempercayainya sebagai hujan)
ada yang jatuh bersamanya
“darimana datangnya rindu yang berkilau ibarat tubuh bidadari ini?”

Setiap yang tertidur mendadak membuka matanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s