Kencan Akhir Desember

erha

Aku menjemputmu di suatu siang, di perempatan pinggiran kota pada akhir bulan Desember. Desember bukan lagi milik musim hujan atau kemarau saja, semua bisa memiliki, tergantung siapa yang lebih dulu bangun pagi. Cahaya matahari tumpah tanpa tujuan. Udara seperti senyawa logam. Kadang kita tak bisa membedakan mana asap kendaraan bermotor, mana rasa kesal. Semua terasa sama getirnya di kota ini.

Dari selemparan batu kulihat kau berjalan menujuku, tenang, seperti angin dinihari. Kau tersenyum, aku tersenyum, lalu pura-pura mengambil helm untukmu.

Tak perlu merasa malu untuk memegang erat lingkar pinggangku. Aku mungkin saja mengerem mendadak, atau berkecepatan lebih dari batas normal kendaraan roda dua dalam kota. Asal kau tahu, ketika di jalan raya, orang-orang di kota ini akan lupa segala sesuatu, bahkan dirinya sendiri. Aku tak ingin seperti lagu-lagu pop yang mengeksplorasi rasa sakit dan penderitaan, tapi saat ini yang aku punya memang hanyalah rongsokan besi simbol prestise rendahan kaum urban.

Bulan lalu kau dan keluargamu pindah rumah ke kota hujan. Kota itu seperti kota dalam puisi, atau kota dalam dongeng, hujan seperti tumbuhan yang selalu berbuah setiap hari. Kau bilang langit di rumahmu seperti warna kopi susu. Sebelum berangkat kau sempat menerka-nerka, apakah akan kita petik buah hujan lagi hari ini? Kau harus terlebih dulu naik angkot sebelum menuju  stasiun. Naik kereta listrik, melintasi jajaran rumah sepanjang pinggir rel, deretan pohon pisang, juga perlintasan tempat mobil dan sepeda motor menyeberang. Kembali naik angkot sebelum akhirnya berdiri di bawah papan reklame itu, menungguku.

Aku khawatir kita akan kehabisan tiket bioskop jika kita tak buru-buru, tapi siapa yang mau disalahkan atas kemacetan kota ini? Kendaraan sudah seperti hewan ternak yang selalu beranak pinak setiap hari. Orang-orang di kota ini? Tak usahlah kita perlu bertanya, kita semua tahu, orang-orang di kota ini mendambakan kota yang maju seperti kota-kota dunia pertama, namun tingkah mereka, semakin hari semakin primitif saja. Tak perlu berkeluh kesah pada pemerintah, mereka sudah terlalu kasihan untuk diberi setumpuk keluhan.

Aku kembali memacu motor, menyelinap di antara sela mobil-mobil yang ditawan kemacetan. Hal yang dibenci para pengendara mobil itu, juga diriku.

Sebuah mall. Megah dan futuristik. Lagi-lagi simbol tentang berapa jauh kita telah menghancurkan kota ini. Setiap melihat bangunan-bangunan megah yang menjulang, aku selalu membayangkan, jutaan tahun kemudian ketika manusia sudah berganti generasi atau bahkan sudah punah, karena bencana alam besar yang disebabkan planet yang bersinggungan atau serangan makhluk asing, mungkin gedung-gedung ini masih tetap ada, meski hanya puing-puingnya. Tertimbun tanah, atau debu-debu asteroid. Lalu manusia masa depan atau makhluk lain sejenisnya akan menemukan bangunan itu dan akan terkagum-kagum melihatnya. Mereka berpikir; bagaimana orang primitif bisa membuat bangunan semegah ini. Mereka akan menggali, dan terus menggali, mencoba menemukan benda lain yang mungkin saja masih ada. Lalu mereka akan meneliti, menduga-duga, membuat hipotesis mengenai bangunan dan artefak yang telah mereka temukan, berapa lama umur bangunan itu, teknik apa yang kita gunakan untuk membangunnya. Apakah menggunakan ilmu sihir atau matematika. Persis seperti apa yang kita lakukan pada saat meneliti sisa-sisa bangunan Romawi atau makam-makam raja Mesir Kuno

Setelah motor kita parkir di basement, kita menuju bioskop di lantai paling atas. Musim liburan, orang berlalu lalang, berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaan. Berpasang-pasang kekasih, berpuluh-puluh keluarga, beberapa orang yang berselingkuh dari pasangannya. Memamerkan seberapa glamour penampilan mereka, memamerkan betapa mesranya mereka dengan pasangannya, memamerkan betapa bahagianya mereka berada di tempat yang megah ini, siang ini. Mall akan selalu mengabdi pada mereka yang haus akan hiburan, kemewahan, dan para pemuja konsumerisme. Puluhan butik dan department store berjajar di setiap lantai, tempat bermain anak-anak, toko buku, restoran keluarga yang menawarkan masakan tradisional, masakan Jepang, dan fast food Amerika.

Aku salah memasuki antrian pembelian tiket, ketika keluar antrian, kau telah lebih dulu membeli tiket. Aku tak ingin berdebat tentang siapa yang harusnya membeli.

Kita sampai di bioskop tak terlambat, tapi hanya memiliki waktu tiga puluh menit sebelum film dimulai, akibatnya kita hanya memiliki sedikit pilihan untuk memilih kursi. Kau memilih kursi di sisi kanan, barisan ke delapan dari depan. Aku mengikuti. Bioskop ini luas, dengan beberapa theatre yang luas pula, tapi hanya memiliki sedikit bangku untuk para penonton menunggu. Jam tayang masih tiga puluh menit ke depan, kita duduk di sebuah bangku panjang, berbagi tempat dengan beberapa pasangan dan keluarga lain. Kita membeli segelas teh dingin yang dicampur dengan jelly. Aku lupa nama minumannya. Sebenarnya aku hanya mengikuti pilihanmu, karena aku tak terlalu paham dengan jenis-jenis minuman yang terpampang di papan. Aku bantu kau membuka sedotan yang masih terbungkus kertas, karena tanganmu yang lain memegang gelas. Sambil menunggu, kita berbicara tentang segala sesuatu. Tentang pekerjaan yang tidak ada habisnya, tentang kebiasaan-kebiasaan aneh masing-masing bos kita. Aku lalu bercerita tentang guru bahasa Jawaku ketika sekolah menengah pertama yang suka bercerita tentang kebiasaan-kebiasaan aneh orang Jawa jaman dahulu. Konon, para bandit di daerah Jawa jaman dahulu suka melakukan ritual-ritual aneh sebelum mencuri. Mereka mengambil beberapa genggam tanah dari kuburan, lalu melemparkannya ke atas atap rumah orang yang akan dicurinya, kemudian bandit akan menari-nari di depan rumah orang yang akan dicurinya, sambil melepaskan seluruh pakaiannya. Konon dengan begitu, para penghuni rumah akan tersihir. Mereka akan tidur lelap, tak akan terbangun meskipun sebuah meteor jatuh di depan rumahnya. Kau tertawa dan terheran-heran. Aku hanya tersenyum dan masih belum memahami tingkah laku para bandit, kenapa harus seribet itu untuk hanya mencuri saja. Kau lalu bercerita tentang apa yang dilakukan keluargamu ketika mereka pulang kampung ke daerah asal mereka di Jawa Tengah. Ketika beberapa keluarga dari perantaun telah berkumpul, mereka akan mengundang wayang kulit untuk tampil semalam suntuk. Orang-orang tua itu akan menyimak dengan khidmat, saat jalannya cerita berlangsung, dan akan tertawa terpingkal-pingkal saat para Punakawan melawak. Kau sendiri bingung, karena tak tahu apa yang diceritakan oleh sang dalang. Kau memilih tidur saja. Suara seorang wanita menggema dari sebuah pengeras suara bioskop. Memanggil, memberitahukan bahwa para penonton sudah bisa memasuki bioskop. Kita minum lagi teh yang berisi jelly itu, lalu bangkit.

Ketika memasuki bioskop, aku sempat terdiam sejenak mendengar lagu bagus yang diputar pada sebuah trailer film yang dibintangi oleh Ben Stiller. Bahkan sempat menahan diri untuk duduk, karena terlalu menikmati lagunya, “Lagunya bagus” kataku, “lagu siapa?”, tanyamu, “aku tak tahu, tapi aku suka.”, belakangan aku tahu dari internet bahwa itu adalah lagu dari sebuah band bernama Of Monster and Men yang berjudul Dirty Paws. Film belum juga dimulai, kita membicarakan dua artis wanita cantik yang sedang naik daun saat ini, “Kau pilih Raisa atau Pevita?” tanyaku. Kau pilih Raisa, kau bilang Raisa cantik, dan anggun. Aku bilang, aku pilih Pevita, karena dia lebih seksi, dan alasan lain laki-laki yang tak perlu dijelaskan pada wanita. Kau tak perlu bertanya lebih jauh tentang apa yang ada di kepala pria, jika mereka melihat wajah Pevita terpampang di internet atau layar televisi. Aku kembali tertawa dan sempat beberapa detik mencuri pandang wajahmu yang samar-samar terkena  cahaya layar bioskop. Aku suka saat-saat seperti ini, kita duduk bersebelahan, kedekatan yang hanya dibatasi sisi kursi bioskop, semangat menunggu film dimulai. Tertawa lepas tanpa alasan yang jelas.

Film ini bercerita tentang legenda rakyat Jepang. Mengambil setting Jepang ketika masih masa kekaisaran, tentang balas dendam 47 Ronin yang dibuang ke hutan oleh pemimpin baru yang merebut kekuasaan secara licik. Karena film ini diproduksi oleh Holywood, maka tetap harus ada pemain kulit putih di dalamnya, entah bagaimana caranya. Film bagus tersebut, harus dirusak dengan bahasa inggris sebagai pengantarnya. Seluruh pemain yang sembilan puluh persen adalah aktor Jepang harus terlihat aneh karena menggunakan Bahasa Inggris, membuat film ini berasa tidak natural. Di kemudian hari aku tak henti-hentinya memberikan argumen kekurangan film ini kepada teman-teman yang sudah menonton dan mengajak diskusi, atau teman-teman yang minta pendapat, ketika hendak menonton film ini. Kau menutup mata ketika ada adegan seppuku, dan adegan pancung. Aku beberapa kali mencuri pandang ke wajahmu, dan sesekali meletakkan tanganku di kepalamu.

Film usai. Orang-orang berhamburan keluar, sementara aku masih malas-malasan di kursi. Kita meninggalkan dua gelas bekas teh ber-jelly itu di lubang lengan kursi bioskop. Pemandangan sama di beberapa kursi lain.

Keluar dari bioskop, kita berkeliling mencari tempat makan. Seorang wanita cantik, tinggi, berkulit putih dan memakai rok mini menarik tanganmu, sambil menyebutkan nama seorang artis yang wajahnya mirip denganmu. Artis yang kau benci, karena kau selalu merasa terganggu jika dibandingkan dengan dia. Aku tak bisa menahan tawa melihat ekspresi wajahmu ketika wanita itu memanggilmu dengan nama si artis. Wanita cantik tadi adalah sales promotion girl sebuah produk ponsel lokal. Kau sempat keberatan ketika dia menarikmu, memintamu untuk difoto, bersamaku juga dengan background papan lebar bergambar lambang produk mereka. Mereka menggunakan ponsel baru mereka yang mungkin paling mutakhir. kita difoto dua kali dengan pose berbeda. Mereka meminta kita untuk memasang pose gila-gilaan, kau malu-malu. Aku merangkul pundakmu, sambil memoncongkan bibir, duck face. Para wanita cantik itu lalu meminta data kita, akun twitter, nomor telpon dan alamat email. Aku mengisi semuanya, sementara kau hanya mencantumkan alamat email saja. Mereka bilang mereka akan mengirimkan hasil foto yang belum sempat kita lihat itu ke alamat email atau akun twitter kita. Seminggu setelah itu, tetap tak ada email yang masuk dari mereka.

Setelah lelah mencari tempat makan, akhirnya kita memutuskan untuk makan di sebuah restoran dengan konsep kumpulan warung tradisional yang juga menyediakan berbagai macam makanan tradisional, dan beberapa makanan Jepang. Aku memesan nasi kebuli Solo dan teh kemasan plus segelas es batu, kau memesan soto Betawi isi lontong, teh kemasan tanpa es batu. Aku baru tahu kalau Soto Betawi bisa dimakan dengan lontong. Aku bilang aku suka bar yang menyediakan berbagai macam minuman itu, konsepnya seperti bar-bar dalam film koboi. Dengan gambar-gambar tangan khas 70 an yang di pasang di dinding, dan drum-drum ukuran tanggung yang ditata di langit-langitnya, membuat bar itu terlihat klasik. Restoran ini ramai sekali. Sulit menemukan tempat duduk yang kosong. Sampai-sampai seorang wanita usia sekitar emapat puluhan bertanya kepada seorang ibu-ibu yang sedang duduk di sebelahku, masih berapa lama lagi dia akan duduk di situ. Pertanyaan yang membuat orang lain tidak merasa nyaman. Kau melirik pada seorang anak perempuan berumur sekitar 6 tahun yang duduk di bangku sebelahku, lalu tertawa sendirian, “lucu” katamu. Aku perlu beberapa menit jeda setelah kau tertawa untuk pura-pura menengok ke samping lalu ikut tertawa. Kepalaku pusing. Aku menduga pasti karena saat menonton film tadi aku memakai kacamata. “Memang harus pakai kacamata ya?”, tanyamu. “Tidak juga, aku hanya ingin melihat detailnya”. Kau tak memakai kacamata, tapi kau memakai softlens. Kau bilang, kau hanya menggunakan kacamata di rumah, ketika kau menonton tv. Aku malah tak pernah memakai kacamata ketika menonton tv. Aku lihat matamu, kau merasa tak nyaman di restoran ini. Terlalu riuh untuk berbicara berdua saja.

Toko buku selalu menjadi salah satu tujuan favoritku ketika jalan-jalan ke mall, meski beberapa minggu terakhir ini minat bacaku mengendur. Kita harus tetap masuk sana. Di dalam toko buku tersimpan kisah-kisah horror, romantisme orang tua, kisah-kisah picisan, para detektif yang cerdas, juga superhero-supehero lucu, tapi perkasa. Di dalamnya kita berpencar, saling menyesatkan diri di antara jajaran rak dan tumpukan buku. Aku mencari buku untuk oleh-oleh gadis kecil tetanggaku di kampung yang sedang gila-gilanya membaca. Dia baru berumur sebelas tahun tapi novel-novel remaja yang pernah aku punya habis dilahapnya. Bukan karena dia ingin lebih dulu dewasa, tapi karena dia sudah kehabisan bahan bacaan yang cocok untuk anak seusianya. Kita seperti main petak umpet, labirin-labirin buku yang membingungkan. Kita sempat saling mencari, sebelum akhirnya bertemu. Aku mendapat dua buku petualangan untuk anak-anak yang beranjak remaja, kau mendapat sebuah headset putih dengan gambar monyet di kedua sisinya.

Kita beristirahat di sebuah bangku berbentuk notasi musik warna-warni di depan toko musik, di samping toko buku. Kau mengeluarkan permen yang dulu pernah kau tawarkan padaku, dan aku tidak suka setelah mencobanya. Permen seukuran setengah kelereng yang tidak keras, tapi tidak kenyal juga. Permen berwarna merah rasa strawbery yang menurutku sama sekali tidak berasa strawbery dan teksturnya aneh di lidah. Sore itu entah kenapa, tanpa kau tawarkan, aku malah meminta lalu mengunyahnya.

Hari telah gelap. Lampu-lampu telah dinyalakan. Matahari telah dimatikan. Sebagian datang, sebagian yang lain harus pergi. Kota ini terus berjalan, tak boleh sedetikpun mati. Aku mengantarkanmu menuju stasiun, jalan yang tak benar-benar aku pahami. Langit memberi isyarat, malam hampir hujan, aku melepaskanmu menuju kota hujan.

Dalam perjalanan pulang, aku menghitung-hitung hari, kapan kita bisa membuang-buang waktu bersama lagi. Beberapa tetes hujan menyentuh punggung  tanganku. Aku memacu sepeda motorku, kemudian tersenyum sendiri.

vespa

photo taken from : http://dailyvespa.com

Baturetno, 30 Desember 2013