Seluruhku akan Mendekat ke Seluruhmu
Ibu
1)
Aku pergi dari jangkauan tanganmu yang mungkin bisa membelaiku, jangkauan hangatmu yang akan bisa mendinginkan ambisiku. Seperti kau lihat bulan di malam hari bergerak, merangkak, menggantung tepat di ubun-ubun langit. Pelan-pelan mengaburkan dirinya, melarikan diri, lalu masuk ke mulut fajar. Lenyap, seperti makna sebenarnya dalam kamus bahasa kita. Lenyap.
Akupun kau pandang lekat, lebih dekat, sebelum aku menjadi keinginan-keinginan masa mudaku. Memuai menjadi jarak. Sejengkal, dua jengkal, hingga kau tak sanggup menghitung lagi dengan matematika sederhanamu.
Jika aku pergi, bukan karena aku tak menyayangimu. Kau tahu, cinta sederhana hanya kita temui di puisi-puisi anak muda, sedang hidup lebih novel dari segala novel yang pernah aku baca.
Jika aku berjalan jauh ke arah barat, bukan karena cintaku padamu tak subur di ladang ini, tapi waktu kita telah dijebak oleh sekulerisme. Dewa pujaan orang-orang serakah, yang memakan habis kepolosan-kepolosan kita. Memberangus ajaran arif moyang kita. Memaksa kita terus bergerak, melecut tanpa belas kasihan, untuk memilih dua pilihan, lari, atau tetap bertahan menunggu mati.
Kau lihat anak muda di kampung ini, lahir di tengah tanah pertanian subur dan luas, besar dan bermain di kali-kali deras, diasuh angin dan padang rumput. Sekolah hingga tinggi, namun tak pernah bisa mengolah tanah kelahiran sendiri. Dimakan gengsi, dimakan teknologi, dimakan kepandaiannya sendiri.
Kau lihat sekumpulan pemuda di kampung ini, kemudian kau lihat wajah legamku.
2)
Di kota yang sangat tak ingin aku datangi, ketika aku masih sekolah menengah dulu, aku melawan dua musuh besar, diri sendiri dan syarat-syarat agar aku bisa terus hidup. Agar aku tak kehabisan udara untuk bernapas, agar aku tetap kebagian waktu untuk mengerti, bahwa satu bulan itu 30 hari. Layaknya ironi. Cinta dan benci bisa jadi orang sama disini.
Ketahuilah, mungkin cita-citaku lebih banyak dari jumlah seluruh penghuni kota ini, mungkin juga luas mimpiku lebih luas dari segala kota ini. Setiap hari aku menempanya, seperti pandai besi dekat pasar di kota kita, mengubahnya menjadi lempengan-lempengan nyata.
Hari-hari tak selalu punya matahari sehangat air matamu, lebih sering hujan, kabut tebal, dan badai hitam yang bisa menggulung habis harapan yang sempat lahir. Tapi bukankah hidup memang seperti itu. Hal-hal buruk datang, hal-hal baik mengikuti.
3)
Aku mengenalmu sebagai seluruh cintaku di dunia ini, selain itu aku tak tahu. Segalamu seperti setiap alasanku sekaligus sebagai kaki-kakiku, membuat aku terus melangkah.
Betapa saat mandi tak dapat kubersihkan dari tubuhku malam-malam bersamamu. Betapa melekat saat menghitung jumlah hujan yang bermain bunyi-bunyian di genteng. Kemalasan-kemalasan saat kau jatuhkan pagi untuk membangunkan tidurku. Membantumu memotong wortel menjadi ribuan helai tak beraturan, atau mengantar dan menjemputmu dengan bawaan penuh ke tempat favoritmu. Pasar tradisional.
Betapa ingin kutaklukan keinginan dunia dengan keinginanku. Merajutkan senja buat selimutmu, memijit kaki-kakimu, mengusir kelelahan-kelelahan, menjadi buku harian tempatmu menceritakan episode-epsode hari, atau menjadi pengendara kereta kencana yang siap mengantarkan kemana kau mau pergi.
Sederhananya mungkin aku ingin mengabdikan seluruh hidupku pada cintamu.
Lalu pada akhirnya nanti, dengan segala yang aku perbuat disini, kau harus percaya bahwa seluruhku akan mendekat ke seluruhmu.

keren !
Keren sekali
saya selalu seneng baca blog ini, dan setelah itu pula selalu saja saya jadi pengen bikin beginian. Terima kasih sudah menginspirasi
Senangnya bisa menginspirasi.