Dari Balik Kaca Jendela Kereta

•Mei 29, 2012 • 1 Komentar

Dari ballik kaca jendela kereta kita saksikan kota, penghuni dan segala drama yang ada di dalamnya berjalan melawan arah. Menyimpang menjauh. Seakan semakin kita dekati, semakin mereka tak ingin lagi dikenali.

Kemana kita menuju? Ke dalam mimpi besar sepasang anak muda yang sedang jatuh cinta. Dimana cinta terlalu mudah untuk dimaknai, dimana tak perlu mereka pikirkan bagaimana caranya sepasang suami istri harus melawan dunia tanpa berusaha untuk saling melepaskan diri.

Pundakku adalah tempat yang amat luas. Tempat yang amat terbuka untukmu menyandarkan hidup. Membagi episode hitam putih, abu-abu.

Ceritakan, ceritakan semua layaknya hujan pada musimnya. Aku siap menjadi hutan. Hutan yang menampung segala hujan.

Kereta ekonomi. Bangku-bangku oranye kosong. Coretan-coretan nakal spidol anak sekolah. Lantai yang tak selalu bersih. Pedagang asongan mondar-mandir. Suara rel beradu dengan roda kereta. Selebihnya kau semakin dalam terbenam dalam pelukan.

Betapa puitisnya pohon-pohon dan rumah kumuh yang terlihat dari balik kaca jendela itu. Langit susu, lapangan bola yang becek, jalan-jalan berlubang. Mereka seperti berkolaborasi membaca puisi untuk kita. Hanya untuk kita.

Saat ini kau hanya harus percaya bahwa aku adalah orang yang akan selalu bersamamu menuju tahun-tahun di depan. Kau percaya bahwa Hawa diciptakan untuk Adam, lalu kau menatap wajahku. Sebuah gundu berpijar kutemukan di matamu. Hari itu tidak ada gerimis, tapi aku tak akan pernah melupakannya.

**

Layaknya kutipan-kutipan dalam buku motivasi. Bukankah kita harus terus berjalan menggandeng hidup hingga dia tak menginginkan kita lagi. Meski jalan tak lagi terasa lebar, meski harus berjalan tanpa seorang teman.

Berapa kali aku harus ke pemakaman untuk meyakinkan bahwa kau telah benar-benar mati dalam hati ini. Berapa kali aku harus berpakaian hitam-hitam, mengingat sekaligus melupakan kisah-kisah, pura-pura berdoa agar kau baik-baik saja. Lalu menaburkan bunga-bunga.

“Meski seseorang itu hidup, tapi jika dia tak ada di sisi kita, bukankah sama saja dia telah mati.” Kata seorang teman suatu hari. Entah kenapa aku begitu mengamini kata-kata tersebut.

Selalu. Selalu aku nikmati kolaborasi pembacaan puisi pohon-pohon dan rumah-rumah dari balik kaca jendela itu. Lalu setiap kereta dari lawan arah melintas, melesat mengikuti angin, aku selalu percaya bahwa salah satu penumpangnya adalah kau. Kau yang bermata gundu pijar. Kau yang menatap wajahku. Kau yang rebah di pundakku sambil berkata,
“cinta kita hanya sebuah lelucon hidup, honey.”

Ciputat 6 Mei 12

Pisau Dapur

•Mei 6, 2012 • 3 Komentar

(i)

wanita yang bernama kesabaran itu telah menanggalkan pakaiannya, daster putih bercorak polkadot hitam sebesar anggur

hujan berjatuhan dari kota hantu berupa serbuk logam
menusuk mata, menembus kulit, pori-pori, mengikat aliran darah, seperti doktrin para nabi
(tak ada yang berani pergi, tak ada yang sanggup pergi)

ketika setiap yang kau sentuh menjadi malam
pintu menjadi malam, buku menjadi malam, rumput-rumput menjadi malam, kebenaran menjadi malam
aku hidup dalam dunia yang tak pernah ada dalam khayal dan nyatamu

kau berdiri. satu langkah kaki kanan, dan bintang-bintang itu memejamkan matanya
napasmu kemudian saja menjadi mendung. mendekam dalam hari-hari

(ii)

dia tersenyum sambil melihat buah dadanya yang mirip buah apel
pura-pura tak melihatmu yang diam-diam mendekat. mengendap-endap layaknya anak kecil yang hendak menangkap santa

masa lalu adalah musuh yang dicintai, tapi tanganmu sendiri bahkan tak segan membunuh masa depan

“bolehkah kugigit apel itu, sayang?” katamu sambil membersihkan tenggorokan
dia hanya tersenyum melesatkan isyarat-isyarat penuh goda

ketika akhirnya kau gigit juga payudaranya, sebuah tangan menggenggamku erat
layaknya ajaran agama yang tak mungkin dilepaskan

hanya dalam sepersekian detik, aku telah mengacau-balaukan usus lambungmu
di matamu yang pasrah kutemukan kekecewaan sedang berdandan

“bagaimana rasa apel itu? manis bukan?” dia masih telanjang
sunyi saling bersahutan

kau menatap jendela. berkaca-kaca
gerimis warna darah
tubuhku berkilauan seperti tubuh malaikat

Sebelum Segala Sesuatu Menjadi Pagi

•Mei 2, 2012 • 5 Komentar

Kau biarkan malaikat-malaikat itu pulang, membelakangi, menjauh dari ranjangmu. Setelah semalaman penuh terjaga. Menjagamu. Sementara malam mulai rapuh. Kumpulan kabut tanggal dari sepi yang kokoh. Sebagian lagi memuai seperti jiwa-jiwa terlepas dari raganya.

Sebuah embun yang kita namai puisi itu mungkin memang benar-benar  jatuh dari langit,( sementara kau lebih percaya bahwa mereka datang dari air mata nenek moyang kita). Di atas pucuk daun mangga belakang rumah, embun itu merebahkan tubuhnya, hingga  akhirnya muncrat, menyebar  ke ranting-ranting pohon trembesi, dahan daun singkong, atap kandang yang bocor, rumput pinggir jalan dan tanah hitam yang harum.

Ketika segala yang bernama hitam telah dihirup subuh, bunyi-bunyi saling mentasbihkan dirinya sebagai yang pertama, kau membuka mata, tepatnya membuka masa lalu. Memasuki sebuah ruang yang hanya ada seorang anak kecil dan dirimu di dalamya.

Anak itu mengajakmu bermain kuda-kudaan, tentu saja kau yang menjadi kudanya. Kau menyetujuinya. Tubuhnya yang gemuk membuatmu  sedikit kewalahan. Setelah berputar-putar belasan kali kau terengah-engah, tiga tetes keringat jatuh ke lantai. Napasmu saling bersahutan.  Anak itu kemudian berkata;

“Kau kelihatan capai sekali, aku akan ambilkan kau minum.”

Kau sendiri heran, mengapa anak sekecil itu bisa berpikir seperti itu.

“Baiklah”

Katamu sambil tersenyum. Anak itu pergi.

Setengah jam, satu jam, dua jam, anak itu tak kembali. Satu hari, satu minggu, satu tahun, anak itu tetap tak membawa air untukmu. Kau memejamkan matamu. Anak yang baru kau kenal itu sudah terasa seperti nyala bagi apimu yang redup. Namun kemudian kau kehilangan hangatnya.  Luka yang tak pernah punya definisi.

**

Rindu siapa yang mengigilkan hewan ternak, batu-batu lumut dan langit bulan April? Tuhanpun tak hendak memberi jawaban.

Serangga-serangga, dan  ular segera masuk ke liang-liang batu. Digantikan burung kutilang dan kupu-kupu daun Johar. Sebentar lagi langit akan dibuka, awan putih berbaris turun, dan cahaya akan mengalir seperti air mancur pada ember yang bocor. Ke bukit-bukit hijau di perbatasan kampung, ke sawah-sawah milik petani miskin, ke kali-kali kecil, hingga waduk di kampung seberang.

Dan sebelum semua itu, sebelum segala sesuatu menjadi yang bernama pagi, kau akan membuka mata untuk  kesekian  kalinya, melihat bayang samar, lebih nampak gumpalan awan, setelah akhirnya mendekat, membentuk bayangan sebentuk manusia. Manusia dengan tubuh  kecil yang kau kenali sebagai anak kecil yang akan mengambilkan air untukmu saat kau main kuda-kudaan tapi tak pernah kembali, anak kecil yang lebih kukenal sebagai aku. Anak kecil yang terbata-bata  hendak berucap;

 “Selamat pagi, Ayah.”

 

Ciputat, 22 April 12

Laron

•April 23, 2012 • 2 Komentar

Aku akan keluar dari persembunyian paling  gelap. Dari lorong-lorong yang paling membosankan, dari lubang-lubang dalam yang amat malas kau temukan. Menunggu begitu lama, untuk mendapat kesempatan keluar dari rumah nenek moyang ini. Kerajaan bawah tanah ini. Keluar menuju dunia yang sesak udara, dunia yang dipenuhi jaring cahaya.

Ketika aku kecil dan belum punya sayap, aku selalu membayangkan nantinya jika aku sudah dewasa dan waktunya tiba, aku akan jadi laron pertama yang keluar dari lorong bawah tanah ini. Laron pertama yang menatap dunia  luas ini. Laron  pertama  yang mengembangkan sayap kokohnya. Terbang ke dunia yang selalu mengganggu mimpi masa kecilku.

Pernah  di suatu hari yang aku tak bisa membedakan mana itu pagi atau mana itu malam, Ibuku bilang ; dunia luar adalah dunia tipu daya saja. “Dunia Fatamorgana “ itu kata yang sering dia ucapkan untuk menyebut dunia luar, meski saat itu aku tak benar-benar paham artinya.  Dia juga sering bilang : “Jangan terlalu berkhayal untuk bisa keluar, di luar sana lebih kejam dari yang kita bayangkan.” Aku mengangguk,  mengiyakan, dan tentu saja diam-diam masih tetap bermimpi untuk sampai  disana nantinya.

***

Setelah hujan mengguyur kampung semalaman. Aku akan muncul dari gundukan tanah basah di kebun belakang rumah. Sebelum matahari itu sarapan, sebelum orang-orang  sempat mengambil wudhu untuk sholat shubuh. Sebelum segala sesuatu siap untuk dterjemahkan.

Rumput-rumput basah, daun pisang  basah, pohon jati basah. Tanah harum yang becek, dan gemericik air dari kali samping rumah. Udara lembab  mengelilingi seluruh pagi, batu-batu licin ditumbuhi lumut. Suara katak yang masih sempat mencuri perhatian. Serta kabut tebal yang pelan-pelan menyusut.

Pagi yang hanya ada dalam puisi itu akan segera menjemputku. Wahai dunia baru, aku telah siap bersenang-senang. Wahai dunia tempat dipertemukannya cahaya dan udara, sambutlah aku. Ucapkan selamat tinggal pada mimpi-mimpi, kini yang ada hanya kenyataan.

Aku  tak sabar untuk mengepakkan sayapku. Kaki berjalan merayap, tapi hati sudah sangat ingin berlari. Teman-temanku berbaris berjajar menunggu untuk keluar. Sebuah lubang telah diciptakan oleh pasukan Sang Raja. Lubang kecil menuju dunia fantasi jutaan laron di dalam tanah sana. Dari kejauhan sudah kulihat titik cahaya yang menembus lubang tanah, membuat jantungku berdegup tak karuan. Mungkin rasanya seperti seorang atheis yang tiba-tiba melihat Tuhan.

Ketika tiba giliran, pelan-pelan aku  merayap melalui lubang itu. Antara gugup dan bahagia, antara percaya dan dibohongi, antara dibunuh dan dihidupkan kembali. Ah, pokoknya aku belum pernah punya sensasi seperti ini.

Setelah aku keluar lubang, setelah lepas dari yang bernama liang, aku merasa begitu hebat dan takjub. Dunia terang yang begitu luas. Dunia yang melebihi dari dunia yang sering aku bangun dalam kepala. Dunia yang tak masuk akal tapi kini ada di depan mata.

Sekarang aku baru sadar, dunia bawah tanah tempatku hidup setiap hari hanya senoktah saja jika dibandingkan dunia yang kupijak saat ini.

Dan matahari itu. Oh, telor warna orange yang berkilauan, akan segera kuhampiri dan kukantongi cahayanya buat ibuku. Aku yakin, sayap kecil yang baru pertama kali akan kupakai ini bisa menembusnya. Menaklukkan matahari.

Aku  ancang-ancang untuk terbang. Kaki mulai kuhentakan  tanah, sayap mulai kukembangkan, aku  begitu bersemangat,dan hap. Sebuah tangan raksasa tiba-tiba  memegang tubuhku. Jari-jari yang panjang dan gemuk itu mencengkeramku. Membuat aku kesulitan  bernapas. Aku berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi tetap saja tak ada hasilnya. Cengkeramannya di tubuhku terlalu kuat. Plok. Tubuhku  dilempar, dijatuhkan dalam sebuah tabung kaca yang basah. Tepatnya dimasukkan secara paksa ke dalam tabung kaca. Kulihat teman-temanku sudah berada di sana. Beberapa tampak tergeletak tak bergerak, beberapa berjalan tak tentu dengan sayap yang terseok, bahkan patah. Sementara yang lain berusaha menembus kaca, tap sia-sia. Aku semakin merinding dibuatnya.

Aku merangkak, menyeret tubuhku sendiri yang amat berat karena melekat di air. Mengambil  ancang-ancang. Posisi untuk terbang, namun dengan air yang mengelilingi dan menjebakku ini rasanya mustahil untuk terbang. Jangankan terbang, untuk sekedar  menggerakkan kaki saja rasanya seperti dirantai dengan barbel. Semakin kuat aku menarik tubuhku, terasa semakin kuat pula air itu menarikku. Hingga  akhirnya pada tarikan terakhir. Krek! sayapku patah.  Tabung kaca dan segala isinya  tiba-tiba berwarna hitam. Sayup-sayup  aku dengar di suara ibu berkata; “Dunia Fatamorgana”

Ciputat 22 April 2012                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Ikan Luka

•April 16, 2012 • 1 Komentar

Ikan Luka

Puisi Ran buat Shinichi

1)

Malam lebih mirip sekumpulan air yang membentuk danau baru yang luas. Mengandung  kecemasan, gelisah, dan kerinduan yang luap serta  berkilauan . Beberapa dari mereka menjelma menjadi teratai, katak-katak , dan plankton. Selebihnya malaikat menadah doa-doa yang berjatuhan ke atas langit.

Aku menganggap diriku sebagai  ikan luka yang telah lelah menghitung waktu, tapi tak pernah lelah terbang. Menyelami kedalaman danau  ini. Dengan sirip yang terbuat dari air mata sendiri, mencarimu. Dan tak pernah ingin bosan untuk menemukanmu

2)

Bagaimana bisa, kau yang lebih lekat dengan darahku  daripada aku sendiri, tiba-tiba hilang? Lenyap, seperti sebuah pertunjukan sulap yang pernah kita saksikan di televsi dulu. Sebuah adegan yang menunjukkan seorang wanita cantik dengan baju seksi yang dimasukkan ke dalam sebuah kotak hitam sebesar kurang lebih satu meter kubik, dibacakan mantra oleh sang pesualap. Beberapa menit kemudian, kotak hitam  itu dibuka lagi, dan tiba-tiba saja wanita cantik tadi hilang. Lenyap. Kotak itu kosong tak berisi. Seluruh penonton bertepuk tangan. Antara terpukau dan kebingungan.

Akupun selalu berharap bahwa kejadian tentang hilangnya kau dariku itu hanyalah sulap. Atau kau sengaja bekerja sama  pesulap tadi untuk memberikan kejutan padaku. Sayangnya bukan.

Sebelum tidur aku selalu menatap langit-langit kamar, meski yang ada hanya gelap karena lampu selalu kumatikan. Namun dengan menatap langit-langit kamar yang gelap aku merasa seperti seorang tokoh dalam film futuristik yang bisa dengan mudah memutar film, adegan demi adegan hanya dengan menggerakkan tangan ke udara saja. Film-film, adegan-adegan, kenangan- kenangan kita.

Di saat seperti itu aku berharap kau tiba-tiba mengetuk pintu  jendela kamarku, atau membuat jantungku berdegup karena mendengar suara derap kakimu menuju kamar tidurku. Tok-tok-tok, tiga kali ketukan pintu, dan suaramu yang agak parau memanggil namaku.

Tapi semakin kuharapkan, semakin aku sadari semua yang bisa melakukan adegan tadi hanya sepi.

Aku hanya paham bahwa kau telah menjadi definisi terbaru untuk kata “terjauh”, dan aku telah menjadi pembohong gagal, yang tak bisa tersenyum, pura-pura bertahan,  saat rindu melesatkan ratusan anak panahnya dari berbagai arah. Hatiku; ranting kering yang tertimpa nelangsa.

(tentu kau tak pernah mencoba rasanya jadi Hawa yang hampir putus asa menemukan Adam)

Aku selalu percaya bahwa kau adalah kunci dari rapatnya hatiku. Kau pasti tahu, bahwa satu kunci hanya bisa digunakan untuk satu gembok pasangannya. Takkan berfungsi untuk yang lainnya. Kau, sesuatu yang amat penting bagi detak jantungku, sesuatu yang tak pernah boleh aku teledor meletakkannya, sesuatu yang harus selalu kugantungkan di leherku. Tempatmu, tak akan pernah mampu dimasuki oleh setia  lainnya.

3)

Bahkan jika danau ini menjadi gurun atau dunia khayal, atau bahkan  jika  tuhan sebenarnya tak pernah merasa menciptakan engkau, aku tetaplah ikan luka yang tak pernah ingin bosan menyelam, ke dasar  yang terdalam. Menemukanmu.

Orang-orang tak punya hati itu akan menyebut aku bodoh, tapi aku menyebut diriku sendiri sebagai setia.

Ciputat 15 April 2012

Nyalakan Aku

•April 11, 2012 • 6 Komentar

1)

Aku tak menganggapnya sebagai dejavu, tapi aku selalu mempercayai tangan-tangan tuhan yang tak pernah berhenti menggerakkan segala sesuatu yang ada di bumi, menciptakan keajaiban-keajaiban, mukjizat, hal-hal yang tak pernah kita sadari, hal-hal yang tak mampu kita pahami.

Akhir-akhir ini hujan dan kota seperti sepasang remaja yang baru saja kasmaran, kemana saja hujan melangkah, kota selalu meggenggam tangannya, seperti tak rela jika sebuah angin yang kecil memberi jarak, sehembusan napaspun tidak.

Malam hampir beku, lalu kau mencium keningnya, menghangatkan urat-urat yang sebentar lagi membiru, meniupkan cahaya ke lampu-lampu ghaib, membangkitkan bintang-bintang  redup, menyalakan aku.

2)

Mulanya sebuah hampa yang luas, lalu setitik puisi jatuh sebagai ibu dari segala bunyi. Merambat ke lembab udara, jalanan basah, tembok-tembok gedung, dan sepatu para pejalan kaki.

Sunyi yang tak lagi kekal. Kemudian kita.

Aku hanya tak ingin percaya bahwa apa yang sedang terjadi adalah adegan dalam sebuah novel remaja. Aku hanya ingin percaya bahwa kau adalah seseorang dari masa depan yang sengaja datang untuk menculikku, ah tepatnya menyelamatkanku, dari hantu masa lalu yang menyamarkan dirinya sebagai masa kini.

(Malaikat luruh menjelma kabut-kabut tipis, lalu tuhan, mungkin juga segala sesuatu memandang tangan-tagan kita yang seperti sebuah lingkaran permainan masa kecil  dari atas kita, dari jangkauan yang tak mampu kita gapai.)

Kau, yang ah, akupun belum menemukan definisi tepat untukmu, Ceritakanlah padaku tentang kehebatan seorang ibu bernama puisi itu, atau tentang nyanyian-nyanyian merdu  yang suka terdengar dari balik gunung, dari balik langit jingga. Juga dunia darimana tempatmu berasal, dunia yang konon katanya dibangun dari jutaan mimpi manusia . Masa depan.

3)

Sebuah jalan menuju hatimu ( tempat Adam sebelum jatuh ke dunia) kau ciptakan lewat dekapan yang hampir abadi, menuntun kaki-kaki kecil rapuh seperti keraguan seseorang, melangkah, menjerumuskan ke tempat yang selalu aku inginkan dari dulu, dari sejak aku bukan segala sesuatu.

Kecuali itu waktu adalah musuh sejati bagi kita,  selalu melawan kita, memakan habis usia, layaknya monster. Engkaupun.

Dan jika saatnya kau melangkah, pohon-pohon, meja-meja kayu, trotoar, dan segala sesuatu yang bersemayam dalam dunia ini akan menjadi kedukaan. Di saat seperti itu, aku ingin menjadi seoraang nabi, seseorang yang mampu menghentikan detak jam digital, membunuh waktu. Membekukan segala adegan yang pernah terjadi di antara kita, dan tak mengijinkannya meleleh barang setetespun.

Namun engkau akan tetap menjadi bayang-bayang, sebelum akhirnya mengabur, menjadi asap sekepalan tangan, lalu noktah, dan hilang. Sama sekali hilang.

4)

Hidup kembali harus dilawan. Bohong jika aku tak terluka, tapi aku tersenyum. Merasa bahagia menjadi seseorang yang pernah kau nyalakan.

Baju Pengantin

•April 1, 2012 • 2 Komentar

1)

Aku memandangmu dari balik kacamata pecahku, dari jarak yang amat susah kau hitung dengan matematika. Pelajaran yang amat kau benci sejak kau memasuki sekolah menengah pertama. Pelajaran yang membuat mukamu merah seperti bulan purnama dalam gambar buku dongeng keponakanku, karena angka hasil ulangan matematika itu ingin menyaingi warna mukamu.

Suatu pagi aku bermimpi. Aku melihatmu sebagai gadis kecil, rambut sebahu agak kemerahan. Terlalu sering dibaui matahari. Bergaun putih mengkilap dengan terusan rok mengembang seperti mangkok terbalik, dan bahu menonjol bagai kubah masjid. Duduk sendirian di kursi beranda depan rumah.

Nampak menunggu seseorang, atau sesuatu. Aku menebak-nebak bahwa kau sedang menunggu ayahmu atau ibumu. Tapi kau seperti sudah tahu apa yang sedang bekerja di kepalaku.

“Aku menunggu boneka barbie. Boneka barbie dari langit yang dikirim Tuhan untukku. Untuk menemani aku bermain tali, gosok gigi, dan tidur di malam hari.”

Matamu nampak seperti laut yang sedang berdoa.

2)

Setelah waktu begitu lelah mempercayai dirinya sendiri, engkau tetap menjadi tuhan bagi ketidakpahaman bahwa dua bola mataku telah menjadi dua matahari kembar yang terbit saat tersentuh jari-jari cahyamu. Jari-jari cahya yang menjatuhkan hujan dari kampung langit, jari-jari cahya yang pandai mewarnai tanaman-tanaman petani, jari-jari cahya yang mampu menyembuhkan anjing-anjing kampung dari penyakit mematikan.

3)

Aku menggambar ubur-ubur hijau yang kuambil dari mimpimu. Ketika kau tidur menjelang subuh. Tepat sebelum malaikat mengirimi rencana-rencana yang akan kau lakukan setelah kau membuka mata.

Aku selalu membawa gambar ubur-ubur hijau itu kemana saja aku pergi. Seperti kitab suci. Meski aku tak benar-benar tahu apa maksud dan makna dari gambar itu. Aku sangat ingin melihat mimik wajahmu menghentikan dimensi karena begitu bahagianya saat kutunjukan gambar ubur-ubur hijau itu padamu. Nanti. Nanti saat aku bertemu denganmu.

Kau tersenyum ketika membaca puisi yang kukirimkan lewat pos. Puisi yang sayangnya aku lupa menulis namaku sendiri di bawahnya, juga alamat darimana surat itu berasal. Aku curiga, Lupa, Kebetulan dan Takdir sedang bekerja sama.

Menyadari bahwa hari itu masih pagi, buru-buru saja kuambil gunting kertas untuk memotong langit. Akan kupotong menjadi burung-burung sriti, biar kukendarai menujumu. Menuju beberapa sentimeter dari jangkauan sentuhmu. Namun gelap. Bumi tetiba gelap. Lagi-lagi aku curiga pada konspirasi yang tak terlihat. Kuputuskan untuk tertawa sambil membaca puisi untukmu itu. Tertawa seakan-akan aku tak pernah mengenal wanita berwujud dirimu.

4)

Dua hari yang lalu aku bertemu dengan seorang wanita India di sebuah kelas singkat tentang pengembangan diri. Dia cantik dengan mata buah anggur dan bibir yang mengingatkanku pada seorang teman sekolah dasar yang sempat kusuka dulu.

Setelah kelas selesai, kami ngobrol sambil minum air jeruk dengan beberapa teman lainnya. Dia lalu mencoba menunjukan kebolehannya untuk meramal. Dia bilang, delapan puluh persen dari ramalannya adalah benar. Aku cuma tertawa. Aku tak percaya ramalan. Ramalan cuma hiburan yang mengada-ada. Semua orang diramalnya, hingga saat orang yang diramal itu jatuh padaku, aku pasrah saja. Dia bilang

“Separuh hatimu saat ini bernama jauh. Saat ingin kau menuju padanya, dia menganggap kau itu ghaib. Tapi nantinya hatimu itu tak akan lagi separuh. Hatimu itu satu. Pada akhirnya satu.” Entah kenapa, mulai saat ini aku percaya pada semua ramalan di dunia.

5)

Kau mungkin tak pernah peduli bagaimana awal mula kita bertemu, namun waktu itu aku merasa ada angin ghaib yang sengaja menumpahkan pesonamu ke seluruh malam, ke lantai jalanan, ke tembok-tembok, ke jalinan-jalinan udara. Seperti menyumbat segala celah yang masih ada untuk tak bisa lepas darimu. Bahkan sebuah bibir yang hendak mengucap “selamat malam” padamupun tidak.

Dia tak bisa bergerak, karena terlalu banyak pesonamu yang menyumbat di dalamnya.

6)

Seperti atheis yang tiba-tiba saja ingin menjadi pendeta suci. Atau langit yang tiba-tiba sangat ingin dipijak, disentuh, dan ditanami seperti bumi. Apa yang bisa kau lakukan selain merelakannya? Merelakan cinta itu bekerja, bereaksi, dan mengendalikan apa saja yang dirasukinya.

7)

Ketika berumur lima tahun kau pernah datang ke sebuah pesta pernikahan bersama ibumu. Kau begitu takjub dengan baju yang dikenakan oleh pengantin. Kau jatuh cinta pada baju mewah itu.

Saat pulang, kau merengek, mengiba, memaksa ibumu untuk membelikan gaun seperti yang dikenakan pengantin. Ibumu bingung. Dia tak langsung membelikan baju yang kau minta. Kau murung hingga beberapa hari.

Bertahun-tahun kemudian kau tersenyum sambil meneteskan air mata. Matamu masih saja laut yang berdoa. Kau nampak cantik mengenakan baju pengantin itu. Ah tidak, kau selalu cantik.

Akupun tersenyum. Mataku hendak menyelam ke matamu.

Malam itu tanganmu begitu hangat.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.